Skip to content

Ternyata Gajah Mada Lahir di Pandaan

September 22, 2011

Gajah Mada Lahir di Pandaan?

Sejarah mencatat. Gajah Mada adalah Mahapatih Amangkubumi mumpuni dan berjasa besar pada Majapahit. Bahkan, nama besar Gajah Mada, di beberapa daerah, lebih dikenal dari pada raja-raja Majapahit, termasuk Hayam Wuruk atau Sri Rajasanagara (1350 – 1359) sendiri. Karena jasanya, Professor Muhammad Yamin menyebut Gajah Mada Pahlawan Persatuan Nusantara. Boleh jadi, konsep Negara Kepulauan Indonesia saat ini adalah visi dari Gajah Mada di tahun 1300 Masehi. Sekitar 7 abad lalu!

Dibalik ketenaran, keunggulan serta kecemerlangan di bidang ilmu politik pemerintahan, hukum serta kanuragan, namun asal usul, jati diri dan akhir hayat Gajah Mada masih menjadi teka teki. Gajah Mada muncul dalam sejarah saat menjadi Bekel (kepala) Bhayangkara , yaitu satuan pengawal raja Jayanegara. Gajah Mada mampu menyelamatkan raja ke Bedander karena ada pemberontakan yang dipimpin Kuti. Bahkan, dengan segala daya upaya dan kepiawaiannya, Gajah Mada mampu mengatasi pemberontakan dan mengembalikan Prabu Jayanegara ke dampar kencana tahta Majapahit. Menariknya, tidak mungkin bila Prabu Jayanegara mempercayakan keselamatannya kepada seorang “Gajah Mada” yang tidak diketahui asal usulnya! Ibaratnya, tidak mudah dan tidak mungkin bagi seseorang untuk menjadi bagian apalagi pimpinan Paspampres (Pasukan Pengamanan Presiden) bila tidak memiliki track record yang luar biasa dan istimewa!

Muhammad Yamin mengatakan Gajah Mada lahir di sebuah lembah di dekat sumber mata air Brantas. Di kaki Gunung Kawi dan Gunung Arjuno. Naskah Usana Jawa yang digubah di Bali menyebut bahwa tokoh sejarah kuno ini lahir di Bali. Menurut naskah ini Gajah Mada lahir dengan cara “memancar” dari buah kelapa sebagai penjelmaan Sang Hyang Narayana. Jadi lahir tanpa ayah dan ibu. Lahir karena kehendak dewa-dewa (Yamin 1977: 13 dalam Munandar 2010:1).

Babad Gajah Mada yang juga digubah di Bali menguraikan Gajah Mada berasal dari pertapaan Lemah Tulis. Ibunya Patni Nari Ratih yang bersuamikan Mpu Sura Darma Yogi, murid dari Mpu Raga Runting. Namun, Dewa Brahma terpesona dengan kecantikan Nari Ratih sehingga menanam benih dengan cara memaksanya. Akhirnya, suami istri ini pergi meninggalkan wilayah Lemah Tulis. Mereka mengembara sampai berbulan-bulan dan tiba di kaki Gunung Semeru. Di Desa Mada lahirlah sang jabang bayi laki-laki yang akhirnya diasuh oleh kepala Desa Mada. Kedua orangtuanya melanjutkan bertapa di Gunung Plambang. Kelak si bayi akan menjadi orang besar yang dikenal di seantero Nusantara.

Viddy Al Mahfud Daeri, seorang budayawan berpendapat, bahwa Gajah Mada lahir di Desa Modo yang termasuk Kabupaten Lamongan. Buktinya, di tempat itu ada petilasan yang dipercaya sebagai tempat kelahiran sang Mahapatih Amangkubumi. Akhirnya, Pemda Lamongan pun giat menelusuri bukti-bukti sejarah yang ada.

Interpretasi terbaru: Gajah Mada lahir di Pandaan. Demikian ungkap Agus Aris Munandar. Doktor dan dosen Arkeologi FIB UI. Gajah Mada adalah anak dari Gajah Pagon. Cucu Macan Kuping, penghulu tua Desa Pandakan. Bila benar Pandakan yang sekarang, dulu berpangkal kepada Desa Pandakan si Macan Kuping, maka Gajah Mada lahir di Jawa Timur, di dataran tinggi Malang, daerah awal mengalirnya Sungai Berantas (Munandar 2010: 11)

Walau secara geografis Agus Aris Munandar tidak secara tepat menyebut Pandaan sebagai dataran tinggi di Kabupaten Pasuruan di kaki gunung Welirang – Arjuno, pendapat tersebut sangat menarik untuk didiskusikan. Apalagi interpretasi ini sangat dekat dengan perkiraan Yamin bahwa Gajah Mada lahir di kaki gunung Kawi dan Arjuno!

Berita Pararaton menyebutkan bahwa runtuhnya kraton Singosari adalah akibat serangan Jayakatwang dari Gelang-gelang/ Kediri Awalnya Raden Wijaya, menantu Kertanegara disertai dengan pengawal dan teman-teman setianya seperti Lembusora, Nambi, Ranggalawe, Gajah Pagon, Pedang Dangdi mencoba bertahan. Tapi akhirnya diputuskan untuk mengungsi ke utara. Gajah Pagon yang telah bertempur hebat melawan tentara Kediri terkena tombak di pahanya

Pararaton secara lugas dan panjang lebar menulis perjalanan Raden Wijaya yang mengungsi ke arah utara akhirnya tiba di hutan kawasan Telaga Pager. Diputuskan kemudian Raden Wijaya harus menuju Madura meminta perlindungan Arya Wiraraja. Akhirnya, dengan susah payah rombongan Raden Wijaya tiba di desa Pandakan dan diterima oleh kepala desa bernama Macan Kuping. Raden Wijaya disuguhi kelapa muda yang setelah dibuka ternyata isinya tak lain nasi putih.

Lebih jauh Pararaton menyatakan:

Gajah Pagon tidak dapat berjalan, berkata Raden Wijaya: “Penghulu Desa Pandakan saya titip seorang teman, Gajah Pagon tak dapat berjalan, agar ia tinggal disini”.

Berkatalah orang Pandakan: “Hal itu akan membuat buruk tuanku, jika Gajah Pagon ditemukan di sini, sebaiknya jangan ada pengikut tuanku yang diam di Pandakan. Seyogyanya dia berdiam di tengah kebun, di tempat orang menyabit rumput ilalang, ditengah-tengahnya dibuat sebuah ruangan terbuka dan dibuatkan gubuk, sepi tak ada yang tahu, orang-orang Pandakan membawakan makanannya setiap hari”

Dari berita ini, dapat ditafsirkan keadaan berangsur-angsur aman dan Gajah Pagon sembuh dari lukanya. Sangat mungkin ia lalu menikah dengan anak perempuan Macan Kuping. Setelah penghulu Desa Pandakan itu meninggal, Gajah Pagon menggantikan kedudukannya menjadi kepala Desa Pandakan. Kemudian keadaan semakin membaik. Majapahit berdiri dan Wijaya menjadi raja. Saat itulah teman-teman seperjuangan Wijaya mendapat kedudukan masing-masing walaupun berbagai sumber menyatakan ada yang tidak puas. Gajah Pagon tetap menjadi penguasa daerah Pandakan. (Munandar 2010: 11)

Tokoh yang menonjol di awal Majapahit, kala diperintah Raden Wijaya (Krtaraja Jayawardhana) yang menggunakan nama “Gajah” adalah Gajah Pagon. Sedangkan tokoh selanjutnya yang bernama “Gajah“ yang juga terkenal adalah Gajah Mada, di jaman pemerintahan Jayanegara. Nama “Gajah “ sesungguhnya berarti pemberani, tahan mental, tidak mudah menyerah, setia kepada tuannya dan berperilaku seperti hewan gajah yang akan menghalau semua penghalang! Jadi dapat diperkirakan bahwa Gajah Mada sejatinya adalah anak dari Gajah Pagon, salah seorang perwira dan pahlawan Majapahit yang terluka di Pandakan. Gajah Mada lahir dari hasil perkawinan Gajah Pagon dan putri Macan Kuping. Kedua “Gajah” ini punya nama dan sifat yang hampir identik!

Maka, mudahlah menerima alasan bila Prabu Jayanegara memilih anak muda bernama Gajah Mada untuk menjadi Bekel (Kepala) Bhayangkara, pasukan pengawal raja, karena Gajah Mada memang memiliki track record yang istimewa. Ayah Gajah Mada adalah perwira pilih tanding, setia kepada Raden Wijaya, tidak terlibat dalam berbagai kerusuhan yang muncul saat awal Majapahit berdiri karena ketidak puasan pembagian jabatan atau daerah. Gajah Mada sendiri adalah prajurit unggul baik secara lahir maupun batin karena gemblengan yang diperolehnya dari ayah dan tokoh-tokoh lainnya kala itu.

Bila Gajah Mada unggul dalam olah lahir dan olah batin hal tersebut dapat dengan mudah dipahami. Pandakan adalah termasuk lereng timur Gunung Penanggungan yang dulu disebut Pawitra. Gunung Penanggungan saat itu merupakan kiblat bagi masyarakat Majapahit. Di gunung suci inilah banyak terdapat mandala-mandala dan ke-resi-an tempat menggembleng berbagai macam ilmu. Baik ilmu ajaran keagamaan. yoga, mitologi, serta ilmu duniawi seperti ilmu pemerintahan, hukum, politik kerajaan, strategi perang dan mungkin juga dasar geografi Nusantara (Munandar 2010: 15). Tak heran, bila akhirnya, Gajah Mada menjadi tokoh Majapahit yang mumpuni dan memiliki visi jauh ke depan.

Masih ada pertanyaan. Dimanakah letak Telaga Pager? Benarkah Pandakan jaman dahulu sama dengan Pandaan sekarang? Hasil penelusuran Hadi Sidomulyo terhadap berita Negarakertagama, Telaga Pager terdiri dari dua nama, Pager dan Telaga. Desa Pager 2 km di utara Damar (termasuk Desa Sekarmojo, Kecamatan Purwosari). Sedangkan Telaga merupakan nama lama dusun Kucur (Sumberejo) yang letaknya 3 Km di barat daya Pager. Ini jelas tidak bertentangan dengan berita Pararaton, yang menyatakan dari Telaga Pager, Raden Wijaya menuju Pandakan sebelum ke Rembang lalu menyeberang ke Madura.

Nama Pandakan juga muncul dalam kitab Negarakertagama yang selesai ditulis tahun 1365, “ ahina muwah ri tambak i rabut wayuha balanak linakwan alaris anuju ri pandhakan ri bhanaragi amgil…” (Pada hari berikutnya ia melalui Tambak, Rabut Wayuha dan Balanak menuju Pandhakan dan Bhanaragi…) (Sidomulyo 2007: 84)

Tambak adalah dusun di Desa Lemahbang, 14 km dari Purwosari, Rabut Wayuha tak lain daripada Suwayuwo, 2 km di utara Lemahbang. Balanak dan Bhanaragi tak dikenal lagi. Dari urutan nama tempat itu jelas, Pandhakan tentu saja adalah Pandaan sekarang!

Pandhakan jaman dulu adalah identik dengan Pandaan sekarang juga didukung uraian Piagam Kudadu bertahun 1294, dikeluarkan oleh Kertarajasa Jayawardana berdasarkan pengalamannya saat mengungsi ke Madura. Prasasti Kudadu yang berasal dari Gunung Buthak, Trawas Mojokerto menceritakan terima kasih raja Kertarajasa kepada ketua dusun Kudadu yang pernah menerimanya dengan ramah waktu singgah dalam perjalanan ke Madura. Saat mengungsi Raden Wijaya dalam masalah besar. Namun ketua dusun Kudadu menerimanya dengan ramah dan memberinya makan dan minum. Kemudian mengantarnya ke Rembang untuk melanjutkan menyeberang ke Madura. Demikianlah dapat disimpulkan, nama Kudadu sebenarnya identik dengan Pandak/Pandhakan atau Pandaan sekarang.

*Courtesy: teguhhariawan
About these ads
18 Komentar leave one →
  1. September 23, 2011 12:54 am

    artikel yang mencerahkan kawan :), menambah khazanah wawasan kita tentang sejarah…

    • September 24, 2011 1:49 pm

      terimkasih atas singgahnya, kang :)
      *sejarah memang kerapkali membuat kita “tercengang”

  2. A-pendy permalink
    November 21, 2011 12:14 am

    sejarah mengajar kita erti kehidupan dan kedaulatan….

    • November 29, 2011 10:12 pm

      “jangan lupakan sejarah”, begitu dawuh Ir. Soekarno…
      *thanks kawan telah singgah :-)

  3. nuriman Sudjak permalink
    Desember 29, 2011 4:29 am

    majapahit adalah sejarah besar indonesia selayaknya kita mengetahui sejarah kehidupan pelakunya, karena kita adalah pewaris kebesaran mereka,
    dari wong tretes yang ada di jakarta

    • Januari 4, 2012 6:26 am

      itulah sebabnya, kenapa guru2 kita berpesan untuk selalu mawas diri dengan mempelajari sejarah yang sesungguhnya…
      *terimakasih kang Sudjak, telah singgah ;-)

  4. Maret 2, 2012 1:20 pm

    wallahu a,lam..
    Yang jelas q ngefen banget
    lahirnya wafat nya.. Semua hanya tariyan bibir.. Yang membuat q bagga diya adalah orang jawa dan q harapkan semoga diya ter lahir kembali untuk tanah air kita….

    • Maret 2, 2012 5:22 pm

      setidaknya “jiwa” perjuangannya terlahir Om ;-)
      *terimakasih singgahnya….

  5. mentos permalink
    Maret 30, 2012 12:45 pm

    apa and yakin drngn sejarah ini tentang asal usul gajah Mada

    • April 6, 2012 3:13 am

      sejarah, tergantung dari mana anda memperoleh cerita/fakta itu berasal
      *terimakasih telah singgah, kawan ;-)

  6. Mei 10, 2012 9:23 am

    maaf mas, boleh saya copy artikelnya buat kumpulan sejarah blog saya mas. akan saya sertakan juga sumber dengan link aktifnya mas. salam sukses buat mas arif :)

  7. Mei 10, 2012 9:26 am

    maaf mas lupa, ini artikel copas juga ya mas? hehe

  8. Mei 10, 2012 9:27 am

    ternyata udah di modifikasi dengan sempurna hehe maaf mas :D

  9. mam bogi permalink
    Agustus 23, 2012 1:21 pm

    sejarah adalah evolusi bangsa,,dibawah kehendak,,beliau(tuhan)kta wajib mepelajarinya,,jangan biarkan sejarah bangsa lain masuk dan berkehndak,,di negara kita sendiri,,sehingga,,indonesia tertidur,,melupakan identitas sejarahnya sendiri,lupa akn jati diri bangsanya,perjalanan sejarah melewati~tempat~ruang~dan waktu,,begitupun keagungan(kekuatan astral),,gajah mada,,sngat diminati,,oleh pemminpin bangsa,,yg haus kekuasaan yg diperbudak oleh engonya,,,slamat bagi penelusur sejarah,,,om tat sat,,

  10. udin permalink
    Maret 7, 2013 6:25 pm

    lain halnya jika dikaitkan dengan perang bubat, tindakan gajah mada menyakitkan perasaan warga jawa barat.

    dan tiada kebanggan dari kami untuknya.

  11. April 24, 2013 2:20 am

    mungkin evolusi dunia tentang sejarah banyak yang telah berubah tetapi sejarah tetaplah sejarah itu kebudayaan kita yang wajib kita jaga sampai anak cucu kita nanti dan seterusnya

  12. Erma permalink
    September 2, 2013 8:16 am

    Maaf mas, apakh gajah mada prnah mnikah n memiliki kturunan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: