Skip to content

Banyak Membaca, Tapi Tetap Tolol!!

Juli 2, 2011

Apa tujuan anda rajin membaca?
Baik dengan membaca buku, makalah, artikel, koran, kitab suci dan sebagainya?
Secara kasar bagi saya ada 2 tujuan orang membaca, meski kedua hal ini jarang terucap:


Pertama: Ingin mencari tempat bersandar

Cirinya adalah, baik dalam tulisan maupun komentarnya tampak seperti puzzle kutipan. Kerjanya hanya menyambung-nyambung kutipan demi kutipan. Baik dari nama-nama besar, ulama, kitab suci dan sejenisnya. Sedang pendapatnya sendiri tidak ada. Jika muncul pertanyaan atau gugatan atas tulisannya, maka dia akan menambah kutipan berikutnya. Singkatnya, apa yang dibacanya, adalah sebagai tempat bersandar secara psikologis, bahwa dirinya tahu dan paham. Tapi giliran diajak berpendapat bebas, dia tidak berani. Tetap dia akan merujuk pada sebuah nama dan Kitab Suci.

Kedua: Mencari Kenderaan Berpikir

Cirinya adalah, baik tulisan maupun komentarnya jarang mengutip. Kecuali jika memang diperlukan. Misalnya karena topiknya memang membedah sebuah nama, literatur, kitab suci, dan sejenisnya. Jika muncul pertanyaan dan gugatan atas tulisan dan komentarnya, dia berani berpendapat atas nama dirinya sendiri. Kata kuncinya lebih kurang adalah: Menurut saya, bagi saya, pendapat saya. Bukan menurut Si Anu, menurut Islam, menurut Kristen, berdasarkan agama Tuhan, dan seterusnya.

Intinya, mereka membaca dalam rangka mencari tuas. Sebagai dongkrak untuk mendorong laju berpikirnya sendiri. Mereka berani meloncat dari satu nama ke nama lainnya. Bahkan mungkin dengan pendapat yang tidak populis. Karena apa? Karena dirinya, tidak mau menjadi orang lain. Tidak mau menjadi buku, tidak mau menjadi nama lain selain dirinya.

Penutup:

Keduanya sama-sama gandrung membaca. Tapi sikapnya berbeda. Yang satu membaca sepeti siswa yang akan menghadapi ujian nasional. Atau seperti mahasiswa yang akan menulis dan menghadapi ujian skripsi. Sedang yang kedua membaca untuk meluaskan cakrawala. Untuk meloncat lebih tinggi. Sejauh dia mampu meloncat membangun paradigma berpikirnya sendiri.

So, dimana posisi anda?

Beranikah anda untuk mengakuinya?
Hati-hati, pengakuan malu-malu dan tebar pesona tidak akan pernah membawa anda kemana-mana.

Sumber: Ea Setan

4 Komentar leave one →
  1. el Qomar permalink
    Juli 11, 2011 8:51 am

    klo aq lebih senang membaca pada posisi wisata berolah rasa. aku bisa pergi dari satu zaman ke zaman yg lain, berpetualang dan bertukar pikiran dengan si penulis. dan saling ngudo roso, mengasah kepekaan dan belajar menjadi orang bijaksana dalam berbagai situasi. rasanya seperti masuk pada dunia lain…. hehehe

    • Juli 11, 2011 10:49 am

      harusnya memang demikian, kang😀
      namun kerapkali “beberapa orang” malah terjebak pada semacam mencari “pembenaran”.

      makanya ada yang bilang “membaca itu mencari ide, menulis menuangkan ide”

  2. el Qomar permalink
    Juli 11, 2011 12:50 pm

    banyak alasan bagi seseorang u/membaca dan semua alasan itu benar.. artinya membaca menjadi sebuah kebutuhan. hasil dr membaca ada yang dikonversikan dalam bentuk bahasa tulisan (makalah, buku, skripsi, dll), maupun bahasa lisan (alibi, komentar dll), bahkan ada juga yang menjadi prinsip hidup dan menjelma menjadi laku. jadi semua tergantung kepentingannya, dan itu sah2 saja kan???

    • Juli 12, 2011 5:46 am

      sah-sah saja, yapz😉
      Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu yang menciptakan (sekalian makhluk). (QS Al-Alaq, 96:1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: