Skip to content

Bencana Pendidikan; Guru Mengajar Tanpa Tuah Tanpa Wibawa

Juli 6, 2011

Merasa jadi sasaran kritik dan kecaman para sufi, pada Sabtu sore  sekumpulan kepala sekolah SMA,SMK, MA, SMP, dan  MTs  dipimpin Dindang Lobha mendatangi pesantren sewaktu para sufi sedang berbincang di teras musholla. Para kepala sekolah yang semula akan memprotes Guru Sufi dan para sufi yang suka mengkritik sekolah mereka, tiba-tiba kebingungan sewaktu berhadapan dengan Guru Sufi. Alih-alih akan protes, Dindang Lobha bersama teman-temannya justru menyampaikan keluh-kesah kepada Guru Sufi tentang bagaimana sulitnya mendidik anak-anak jaman sekarang yang cenderung egois, hedonis, pragmatis, individualis, malas, suka membolos, tidak patuh, bahkan berani menentang guru. “Beda dengan zaman dulu, Mbah Kyai, murid-murid sekarang ini sulit diatur dan menolak patuh pada guru. Kalau guru mendidik dengan keras, katanya melakukan kekerasan lalu dihujat rame-rame,” kata Dindang Lobha.

“Zaman memang sudah berubah, segala sesuatu juga berubah,” sahut Guru Sufi.

“Itulah sulitnya menjadi guru di zaman ini, Mbah Kyai,” kata Dindang Lobha.

“Tapi dalam tradisi belajar-mengajar, ada hal-hal yang tidak berubah tetapi hanya menyesuaikan dengan keadaan,” sahut Guru Sufi mulai memancing bahasan.

“Maksudnya tidak berubah tapi hanya menyesuaikan dengan keadaan itu bagaimana, Mbah Kyai,” sahut Bawi Grangsang, kepala SMA SBI ingin penjelasan.

“Ya itu yang menyangkut nilai-nilai keguruan yang pelaksanaannya menyangkut citra mulia sosok guru sebagai pendidik, sebagaimana tidak berubahnya orang melakukan sholat yang di zaman apa pun seperti itu syarat-syarat dan rukunnya serta amaliahnya,” kata Guru Sufi.

“Dalam kaitan dengan guru, bagaimana Mbah Kyai?” tanya Bawi Grangsang.

Guru Sufi tidak menjawab. Setelah diam sejurus, ia mengumandangkan tembang dhandanggula yang dicuplik dari Serat Wulang Reh, sebagai berikut:

“Lamun angguguru kaki/ amiliha manungsa kang nyata/ ingkang becik martabate/ sarta kang wruh ing ukum/ kang ngibadah lan kang wirangi/ sukur oleh wong tapa/ ingkang wus amungkul/ tan mikir pawehing liyan/ iku pantes sira guronana kaki/ sartane kawruhana//”

(Jika engkau mencari guru, pilihlah manusia sejati, yang baik martabatnya, yang tahu hukum, yang menjalankan ibadah dan teguh menjalankan pantangan (wara’), syukur jika mendapat seorang pertapa, yang tidak terikat duniawi, tidak memikirkan pemberian orang, itulah yang pantas engkau jadikan guru, hendaknya ini engkau ketahui).

“Menurut Kangjeng Susuhunan Paku Buwono IV yang menulis Serat Wulang Reh, ciri-ciri guru yang luhur dan mulia itu meliputi: manusia sejati, yang ditandai ciri (1) bermartabat baik; (2) memahami hukum; (3) menjalankan ibadah; (4) teguh menjalankan pantangan; akan lebih baik jika ketemu guru berwatak pertapa, yang dicirikan watak (5) tidak terikat duniawi jiwa dan pikirannya; (6) tidak memikirkan pemberian orang lain. Enam kriteria yang ditetapkan sebagai watak guru itulah yang diusahakan untuk tidak berubah pada zaman apa pun, karena itu bersangkut-paut dengan citra keberadaan seorang guru dalam makna yang utuh. Jika keenam ciri guru itu dilanggar, maka hilanglah ruh guru dari jiwa seseorang meski dia berkedudukan formal sebagai guru.”

“Tapi Mbah Kyai,” sahut Bawi Grangsang memprotes,”Kalau kriteria guru yang ditetapkan orang-orang zaman kuno itu harus dipakai sekarang, mana mungkin bisa dijalankan. Karena menjadi guru akan bermakna menjadi orang miskin yang sengsara dan serba kekurangan.”

“Sampeyan pernah dengar lagu Omar Bakri?” tanya Guru Sufi memancing.

“Pernah Mbah Kyai, tapi itu lagu zaman kuno. Itu citra mengerikan dari sosok guru.”

“Pernah dengar  sebutan pahlawan tanpa tanda jasa?” tanya Guru Sufi.

“Ee pernah, Mbah Kyai.”

“Bagaimana kalau citra Omar Bakri itu dihilangkan dari citra guru dan juga sebutan pahlawan tanpa tanda jasa juga dicabut dari citra guru? Setujukah citra Omar Bakri diganti menjadi citra Gayus Tambunan dan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa diubah menjadi debt-collector pengeksploitasi jasa?” tanya Guru Sufi.

Bawi Grangsang, Dindang Lobha dan teman-temannya terdiam. Sejurus suasana hening. Sesaat kemudian An’am Thoma’, kepala sekolah MTs  menyahuti,”Sistemnya sudah membentuk aturan yang profesional, Mbah Kyai. Sulit rasanya untuk diputar balik ke ideal guru masa lampau.”

“Benar Mbah Kyai,” sahut Bawi Grangsang menukas,”Sekarang ini sekolah-sekolah sudah berlomba menjadi SBI – Sekolah Bertaraf Internasional, yang dikelola secara profesional sesuai kemajuan zaman.”

“Bertaraf Internasional? Profesional?” sahut Guru Sufi dengan suara ditekan tinggi,”Itu semua slogan kosong tak bermakna, program menipu masyarakat untuk memperkaya diri. Setahuku, belum ada sekolah bertaraf internasional di negeri ini.”

“Lho bagaimana sampeyan bisa menyatakan SBI sebagai program menipu masyarakat? Bagaimana sampeyan bisa menyatakan di negeri kita belum ada SBI? Bukankah faktanya banyak SBI?” sergah Bawi Grangsang marah.

“Pak Bawi Grangsang, Anda kepala SMA Internasional  yang marah disebut menjalankan program menipu masyarakat. Sekarang saya mau tanya, kurikulum SMA  internasional mana yang Anda terapkan dalam PBM di sekolah yang Anda pimpin? Karena setahu saya, Diknas belum memiliki kurikulum SMA internasional. Yang kedua, berapa jumlah guru di SMA internasional yang Anda pimpin yang sudah memiliki sertifikasi mengajar internasional? Karena menurut peraturan internasional, seorang sopir untuk mengemudi di luar negeri harus memiliki SIM internasional apalagi guru yang mendidik manusia, tentu wajib punya sertifikasi mengajar internasional, dan tentu saja proses belajar-mengajar disampaikan dengan bahasa internasional,” kata Guru Sufi memberondong.

Bawi Grangsang diam. Ia sadar bahwa guru-guru di sekolahnya tidak ada satu pun yang memiliki sertifikasi mengajar internasional. Bahkan kurikulum yang digunakan pun bukan kurikulum internasional. Itu sebabnya, ia memilih diam dan tidak menjawab pertanyaan Guru Sufi.

An’am Thoma’ yang tersinggung dengan ucapan Guru Sufi berusaha membalas dengan menanyakan soal kemungkinan tidak diikutinya kriteria guru ideal menurut Serat Wulang Reh,”Maaf, Mbah Kyai. Kalau enam kriteria ideal guru yang ada di dalam Serat Wulang Reh itu tidak dijalankan, memangnya ada resiko tidak baik bagi guru?”

“Namanya juga kriteria baku guru, pasti ada resiko-resikonya,” kata Guru Sufi.

“Apa kira-kira resikonya?” tanya An’am Thoma’ dengan nada mengejek,”Kami selama ini tidak pernah mengikuti keenam kriteria yang Mbah Kyai tembangkan tadi.”

“Benar Mbah Kyai,” sahut Bawi Grangsang dan teman-temannya.

“Lha apa kalian tidak sadar dengan yang dikeluhkan saudara Dindang Lobha di awal pembicaraan tadi?” tanya Guru Sufi dengan suara merendah.

“Pembicaraan yang mana, Mbah Kyai,” tanya Dindang Lobha heran.

“Saudara tadi kan mengeluhkan murid-murid yang  menurut saudara egois, hedonis, pragmatis, individualistis, malas, suka membolos, tidak patuh,  dan bahkan melawan guru? Tidakkah saudara sadar bahwa apa yang saudara keluhkan itu bukan kesalahan murid-murid, tapi sebaliknya itu adalah kesalahan saudara sebagai guru yang sudah tidak memiliki ruh guru, yaitu ruh Ilahi yang mengajarkan kepada manusia lewat qalam pengetahuan yang sebelumnya tidak diketahui manusia?” kata Guru Sufi dengan nada tanya.

“Lha kok kami para guru disalahkan?” sahut An’am Thoma’ tidak terima,”Bagaimana Mbah Kyai bisa menilai kami yang salah, padahal semua orang tahu itu semua akibat murid-murid yang bandel, liar, nakal, tidak patuh, dan berani melawan guru.”

              “Jika murid-murid saudara melawan, itu bukan karena mereka bandel, liar, nakal, tidak patuh, dan berani melawan guru. Ketahuilah, bahwa ucapan-ucapan saudara dalam menyampaikan pengetahuan tidak memiliki tuah. Saudara tidak punya wibawa guru. Ibarat ampas kelapa, kata-kata saudara sudah tidak ada saripati santannya lagi. Sekedar ampas. Hampa. Kosong tanpa makna.Saudara hanya seorang pengajar, bukan guru. Sebab ciri utama seorang  guru sejati sosoknya  diliputi wibawa dan  kata-katanya memiliki tuah, sehingga dia dimintai pe-tuah oleh murid-murid maupun orang tua murid. Dan harap diketahui, hilangnya tuah dari seorang guru adalah dikarenakan guru-guru telah melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai keguruan yang suci.”

“Asal saudara-saudara tahu, bahwa istilah guru dipungut dari nama Syiwa Mahaguru. Itu sebabnya, di masa lampau seseorang yang menjadi guru wajib suci dari nafsu duniawi karena ia menjadi representasi Syiwa dalam mengajarkan ilmu pengetahuan. Siswa-siswa yang menuntut ilmu dari guru, karenanya harus didiksha (disucikan) lebih dulu. Dari kata didiksha, lahirlah kata didik yang menjadi akar kata pendidikan. Jadi dari latar sejarah, istilah guru, siswa dan pendidikan memiliki makna ruhani. Nah, kalau makna ruhani itu saudara langgar dan saudara injak-injak dalam rangka memenuhi nafsu rendah duniawi, maka jangan disalahkan jika ruh guru akan tercabut dari sosok saudara, dan tidak cukup itu, Syiwa selaku Sang Perusak akan menghancurkan siapa pun di antara guru-guru yang merusak kesucian-Nya.”

“Tapi kami ini muslim, Mbah Kyai,” sahut An’am Thoma’ dengan suara mulai merendah, “Kami tidak ada hubungan dengan Syiwa.”

“Kalau pandanganmu seperti itu, maka jangan lagi kalian pakai sebutan guru karena itu nama Syiwa. Pakai saja istilah teacher, pengajar, tutor,  atau ustadz. Jangan juga dipakai istilah siswa,  karena itu berkaitan dengan istilah kuno bersifat spiritual tapi pakai istilah student, pupil, tilmid. Begitu juga istilah pendidikan, gantilah dengan istilah lain seperti edukasi, instruksi, training, dll. Gantilah semua istilah spiritual itu dengan istilah pagan yang lebih sesuai menurut saudara,” kata Guru Sufi menjelaskan.

Para kepala sekolah terdiam. Mereka mencari-cari argumen untuk mendebat semua yang dikemukakan Guru Sufi. Tetapi sebelum perbincangan dilanjutkan, tiba-tiba HP Dindang Lobha berbunyi. Buru-buru ia angkat dan dengarkan call dari seorang guru. Beberapa jenak, wajah Dindang Lobha terlihat pucat. Lalu sambil memasukkan HP ke saku celananya, ia berpamitan buru-buru untuk balik ke sekolah.

“Ada apa kok kelihatannya gawat?” sahut Guru Sufi menebak,”Ada guru les  dikeroyok siswa ya, karena suka nempelengi siswa kalau omongannya tidak digubris?”

“Lha, kok Mbah Kyai tahu?” sergah Dindang Lobha heran.

“Saya tahu karena saya masih seorang guru,”sahut Guru Sufi tegar.

Sumber: mbah sunyoto

One Comment leave one →
  1. September 10, 2012 8:11 am

    I am not sure where you are getting your information, but good topic.
    I needs to spend some time learning much more or understanding more.
    Thanks for fantastic information I was looking for this info for my
    mission.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: