Skip to content

[review film] Surat Kecil Untuk Tuhan

Juli 6, 2011

Film perdana Surat Kecil untuk Tuhan (SKUT) memberikan pesan kepada para penontonnya untuk memaknai kehidupan dengan lebih baik lagi. Tidak sedikit penonton yang bercucuran air mata bahkan sulit menghentikan tetesan air matanya begitu selesainya film ini.

Seringkali dalam kenyamanan karir, pekerjaan dan segala fasilitas yang ada, kita terlena untuk tidak menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya bersama sahabat, anak-anak, istri/suami, dan orang-orang terdekat kita. Kita begitu asyik menjalani hidup ini dengan egoisme kita sendiri dan melupakan nilai-nilai spiritualitas. Tapi saat kita ‘tersungkur’, kita baru menyadari bahwa kita masih diberi kesempatan untuk mendekat kembali kepada Sang Khalik.

Film besutan sutradara Haris Nizam, produksi dari Skylar Pictures ini memang layak diapresiasi oleh para penikmat film Indonesia. Bukan soal bagaimana film ini bisa menampilkan kepingan-kepingan fragmen yang inspiratif saja, melainkan pesan yang ingin disampaikan dari film ini, yang diambil dari kisah nyata gadis remaja berusia 13 tahun, Gita Sesa Wanda Cantika dalam buku dengan judul sama karya Agnes Davonar, sangat kuat ‘menggedor’ hati para pemirsanya untuk berkaca pada kehidupan masing-masing individu.

Sejauh mana kita memaknai kehidupan yang telah diberikan Tuhan ini. Nikmat apalagi yang akan kita dustai.

Kuatnya skenario kehidupan Gita Sesa Wanda Cantika, atau yang biasa dipanggil Keke, sungguh kental ditangkap oleh para penonton. Bukunya saja yang telah terjual lebih dari 30 ribu copy yang juga terkenal di Taiwan dan telah diterjemahkan, bisa membuat banyak orang berucuran airmata saat membacanya, apalagi visualisasinya. Maka tantangan bagi sutadara film ini adalah untuk ‘merajut’ jalinan ceritanya yang sudah sangat inspiratif itu menjadi adegan-adegan utuh untuk menggambarkan ketegaran hati sosok Keke dalam durasi 100 menit di layar lebar.

Hampir tidak ada cela yang bisa dialamatkan kepada para pemain dalam film ini, yang kebanyakan bukanlah bintang-bintang beken. Pemeran Keke yaitu Dinda Hauw sendiri tampil amat memukau untuk ukuran pendatang baru di dunia entertainment. Tak ketinggalan aktor dan aktris lain yang hanya menjadi pemeran pendukung tampil maksimal. Bahkan aktor yang menjadi supir keluarga Keke di film itu, yang sering tampil tanpa bahasa verbal cukup membuat emosi para penonton teraduk dalam keharuan kisah ini.

Keke mengidap penyakit yang disebut Rhabdomyosarcoma pertama di Indonesia, yaitu kanker ganas yang menyerang jaringan lunak dan sudah berada di stadium 3. Kanker tersebut berkembang sangat pesat setiap 5 hari dan mengganggu penglihatan dan aktivitas Keke sehari-hari.

Keke sering mimisan, sulit bernapas dan matanya memerah lalu berair dan lama kelamaan ada benjolan yang semakin hari semakin besar di bawah kelopak mata bagian kiri. Keke tampak buruk sekali, kecantikannya hilang. Walau begitu, ia tetap ingin ikut ujian sekolah. Kegigihannya dalam menjalani kehidupan ini yang membuat Ibu Megawati memberikan penghargaan sebagai ‘Siswi Teladan.’

Ada dua hal yang saya sayangkan adalah dalam 10 menit pertama film ini hanya membawa penonton pada emosi yang datar saja. Yaitu adegan-adegan sederhana kehidupan remaja di sekolah dan persahabatan Keke. Padahal kekuatan makna persahabatan sudah bisa terwakili di hampir sepanjang film ini, sehingga kisah film ini bisa diawali oleh hingar bingar balapan jalanan yang sering dilakukan oleh kakak laki-laki Keke yang tertua, beserta latar belakang mengapa ia tidak betah di rumah.

Hal yang kedua adalah banyaknya adegan-adegan yang tidak ditampilkan, walaupun sudah dibuat oleh seluruh kru film ini. Padahal, adegan-adegan yang tidak ditampilkan tersebut jika tetap disertakan, bisa saja membuat rajutan kisah di film ini menjadi satu garis besar utuh yang lebih enak untuk ditonton. Saya membandingkannya dengan film Gie atau Laskar Pelangi yang juga diangkat dari kehidupan nyata seseorang. Kepingan-kepingan adegan dalam kedua film tersebut mampu menampilkan keutuhan cerita yang tidak ‘terpisah-pisah.’ Sedangkan dalam film SKUT ini banyak adegan-adegan ‘yang terputus’ dan menjadi seperti kumpulan kepingan fragmen yang sedih.

Overall, film ini sangat direkomendasikan untuk ditonton oleh remaja maupun orang tua. Banyak pelajaran yang bisa dipetik. Menurut sumber terpercaya, film ini hanya butuh 30 ribu penonton untuk ‘balik modal.’ Inilah sebuah film yang tidak perlu mahal pembuatannya untuk bisa menyampaikan pesan-pesan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

Oiya, jangan terganggu dengan aksen cadel dari Keke dalam film ini. Karena pemerannya, Dinda Hauw, sebenarnya tidaklah cadel, tapi hanya sekedar mendekati tokoh aslinya saja yang memiliki cara berbicara demikian.

Satu tips untuk menonton film ini adalah, bagi kaum laki-laki yang menonton film ini, jangan malu-malu untuk menyeka air mata yang tanpa disadari membasahi kelopak mata.

***

Judul film: Surat Kecil Untuk Tuhan

Pemain : Alex Komang, Dinda Hauw, Esa Sigit, Ranty Purnamasari, Dwi Andika, Egi John Foreisythe

Sutradara : Harris Nizam

Penulis: Beby Hasibuan

Sumber: erri subakti

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: