Skip to content

Bukan Sekedar “Suara Rakyat Suara Tuhan”

Juli 13, 2011

Vox Populi Vox Dei (Suara Rakyat Suara Tuhan)

Adagium Vox Populi Vox Dei, sangat sering diucapkan oleh para politisi maupun pakar hukum kita di negeri ini. Gerakan reformasi tahun 1998 yang diprakarsai para mahasiswa menandai runtuhnya belenggu rejim otoriter Orde Baru selama hampir 32 tahun berkuasa. Walaupun ‘people power’ di negeri tetangga Filipina lebih dahsyat gaungnya, namun Gerakan mahasiswa di Indonesia tidak kalah taktis dengan strategis mengepung gedung DPR RI berhari-hari, dan ini dianggap merupakan representasi dari ‘moral force’ yang menyuarakan ’suara rakyat’ berupa tuntutan agar rezim yang berkuasa turun dari singgasana kekuasaan. Tuntutan inilah yang menyebabkan lengsernya penguasa Orde baru Presiden soeharto secara elegan melalui testimoni ala “Surat perintah 11 maret”. Apakah ini bukan sebagai pertanda adanya campur tangan Tuhan?

Bagaimana kita menjelaskan ini secara ilmiah praktis sehingga kita tidak terjebak di dalam pengertian yang sumir terhadap epistomology ketatanegaraan ini?

Ungkapan lama ini sering dikaitkan dengan William of Malmesbury (abad 12) dan surat alcuin of York kepada Charlemagne pada tahun 798.

Ungkapan “vox populi vox de” biasanya dipercaya secara mentah-mentah bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan. Dengan demikian tersirat bahwa pendapat umum selalu benar.

Sebenarnya kutipan surat yang ditulis oleh Alcuin of York (735-804), EPISTOLAE 166, paragraf 9, menyiratkan hal yang sebaliknya. Kutipan lengkap berbunyi:

“Nec Audienti sunt qui solet docere, ‘VOX POPULI VOX DEI,’ cum tumultuositas vulgi semper insanitas proxima est”

Vox = artinya SUARA
= kata benda, declinatio ke 3, nominativus, singularis, femininum

Populi = arti RAKYAT
= kata benda, declinatio ke 2, genetivus (bentuk nominativusnya POPULUS), singularis, masculinum

Dei = arti TUHAN
= kata benda, declinatio ke 2, genetivus (nominativus: DEUS), singularis, masculinum

Terjemahannya:

“Do not listen to those who are accustomed to teach (claim), ‘The voice of the people is the voice of God’, because the tumult of the masses is always close to insanity.” [Cohen, J.M. & Cohen M.J, 1960 Penguin Dictionary]

Bahasa Indonesia:
“Jangan dengarkan orang-orang yang biasa mengajarkan (mengklaim) bahwa “Suara Rakyat adalah Suara Tuhan, karena gegap gempitanya (ANUT GRUBYUG) massa selalu dekat dengan kegilaan.”

Dari uraian di atas dapatlah disimpulkan bahwa Vox Populi = Vox Dei, sejauh tidak ada rekayasa penggiiringan suara massa dan bila setiap pribadi dari massa itu dekat dengan Tuhannya. (baca ; orang beriman, menyuarakan sebaik-baik ajaran agama).

Menyuarakan sebaik-baik ajaran agama tanpa kebohongan, berarti apa yang dilakukan termasuk hak bersuara dan menyatakan pendapat, sungguh tidak bertentangan dengan kehendak Tuhan dari semua agama. Pribadi yang menjadi unsur massa merupakan ‘instrumentum coniunctum’ yakni alat yang dipakai tuhan dan selalu terhubung dengan Tuhan – tidak ‘mbalela’ atau berpaling dariNya.

Menarik, kalau setelah satu abad dihubungkan dengan revolusi Perancis yang memekikkan liberte, egalite, fraternite di dalam “Declaration des droits I home et du citoyen” – – pernyataan Hak Azasi Manusia dan hak warga negara Perancis- – menjadi solusi atas chaos terbunuhnya Louis ke XVI yang dipenggal melalui ‘guilotine’ dan istrinya Maria Antoinette. Revolusi rakyat yang menentang penguasa yang dholim dan tidak adil yang semula digerakkan oleh para bangsawan, Saudagar dan Gereja akhirnya memakan ‘anak’nya sendiri yaitu para pejuang dan pemikir seperti Montesque, di bunuh. Ini bukti ‘paradoks’ sejarah.

Kembali kepada ‘Suara Rakyat’ yang diilhami oleh ’suara Tuhan’ (baca; ajaran agama), kondisi yang harus ada untuk bersuara juga harus bebas– tanpa tekanan. Jangan pernah terjadi lagi situasi dimana para intelektual ikut berkhianat (cf: Julien Benda’s “La trahison de Clercs” dan studi kasusnya Pettigrew- dimana orang jelas tahu bahwa GARIS ITU PENDEK tapi dibalik menjadi GARIS ITU PANJANG karena ewuh pekewuh dan vested interest). Pettigrew juga menemukan bahwa banyak orang yang jadi bebek dan tidak berani jadi elang dengan mengatakan bahwa GARIS ITU LURUS walaupun sebenarnya BENGKOK.

Oleh karena itu para petinggi di negara ini harus berani jadi elang yang memberi teladan dan tidak hanya jadi bebek. (cf: amar ma’ruf nahi mungkar)

Sumber: abdul muin

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: