Skip to content

Prediksi Awal Bulan Syawwal 1432 Hijriyah, Kenapa Beda?!!

Agustus 29, 2011

Prediksi Awal Bulan Syawwal Berbagai Kriteria.

Lebaran tahun ini dikhawatirkan akan berbeda hari antara penetapan pemerintah (Isbat) yang diperkirakan menetapkan 1 Syawwal 1432 H jatuh pada Rabu (31/8) dengan keputusan Muhammadiyah yang sejak awal menetapkan 1 Syawwal jatuh pada Selasa (30/8). Hal ini juga terlihat dari kalender mereka yang mencantumkan tanggal 1 Syawwal yang berbeda dengan kalender resmi pemerintah. Sementara NU, Persis dipastikan akan mengikuti keputusan pemerintah yaitu berlebaran pada Rabu (31/8) karena secara kebetulan berdasarkan kriteria yang mereka gunakan menghasilkan kesimpulan yang sama.

Berikut beberapa perspektif penentuan Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal 1432 H), sekaligus informasi penetapan 1 Syawal di negara-negara lain:

1. Menurut Kriteria Rukyat Hilal (Teori Visibilitas Hilal)

Teori Visibilitas Hilal terbaru telah dibangun oleh para astronom dalam proyek pengamatan hilal global yang dikenal sebagai Islamic Crescent Observation Project (ICOP) berpusat di Yordania berdasar pada sekitar 700 lebih data observasi hilal yang dianggap valid. Teori ini menyatakan bahwa hilal hanya mungkin bisa dirukyat jika jarak sudut Bulan dan Matahari minimal 6,4° (sebelumnya 7°) yang dikenal sebagai “Limit Danjon”. Kurva Visibilitas Hilal sebagai hasil perhitungan teori tersebut mengindikasikan bahwa untuk wilayah sekitar Katulistiwa (Indonesia) hilal baru mungkin dapat dirukyat menggunakan mata telanjang minimal pada ketinggian di atas 6°. Di bawah itu hingga ketinggian di atas 4° diperlukan alat bantu penglihatan seperti teleskop dan sejenisnya.

Melihat lokasi Indonesia menurut peta visibilitas di atas sesuai dengan teori visibilitas hilal maka seluruh wilayah Indonesia mustahil dapat menyaksikan hilal pada hari pertama ijtimak sore setelah Matahari terbenam walaupu menggunakan teleskop. Dengan demikian maka diberlakukan ISTIKMAL sehingga awal bulan akan jatuh pada: Rabu, 31 Agustus 2011.

Nahdlatul Ulama (NU) yang menggunakan rukyat sebagai dasar penentuan awal bulan masih mengakui  kesaksian rukyat asalkan ketinggiannya di atas batas imkanurrukyat 2° bahkan hanya dengan mata telanjang. Sementara dalam penyusunan kalendernya NU menggunakan kriteria imkanurrukyat 2° tanpa syarat elongasi dan umur Hilal.

2. Menurut Kriteria Hisab Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanurrukyat yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada  Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :

Hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:

  1. Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
  2. Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau 
  3. Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku. 

Kriteria inilah yang menjadi pedoman Pemerintah RI untuk menyusun kalender Taqwim Standard Indonesia yang digunakan dalam penentuan hari libur nasional secara resmi. Dengan kriteria ini pula keputusan Sidang Isbat Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah “bisa ditebak hasilnya”.  Ormas Persatuan Islam (Persis) belakangan telah mengadopsi kriteria ini sebagai dasar penetapan awal bulannya. Belakangan kriteria ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia sementara Singapura menggunakan Hisab Wujudul Hilal dan Brunei Darussalam menggunakan Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas.

Menurut Peta Ketinggian Hilal tersebut, pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS belum terpenuhi. Dengan demikian  diberlakukan ISTIKMAL sehingga awal bulan jatuh pada : Rabu, 31 Agustus 2011.

3. Menurut Kriteria Hisab Wujudul Hilal

Muhammadiyah dalam penyusunan kalender Hijriyah baik untuk keperluan sosial maupun ibadahnya (Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah) menggunakan kriteria yang dinamakan “Hisab Hakiki Wujudul Hilal”. Kriteria ini menyatakan bahwa awal bulan Hijriyah dimulai apabila telah terpenuhi tiga kriteria berikut:
1) telah terjadi ijtimak (konjungsi),
2) ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
3) pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud). Ketiga kriteria ini penggunaannya adalah secara kumulatif, dalam arti ketiganya harus terpenuhi sekaligus. Apabila salah satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai. Atau dalam bahasa sederhanya dapat diterjemahkan sebagai berikut:

Jika setelah terjadi ijtimak, Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian Bulan saat Matahari terbenam”.

Berdasarkan posisi hilal saat matahari terbenam di beberapa bagian wilayah Indonesia maka syarat wujudul hilal sudah terpenuhi.  Maka awal bulan ditetapkan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

4. Menurut Kriteria Kalender Hijriyah Global

Universal Hejri Calendar (UHC) merupakan Kalender Hijriyah Global usulan dari Komite Mawaqit dari Arab Union for Astronomy and Space Sciences (AUASS) berdasarkan hasil Konferensi Ke-2 Atronomi Islam di Amman Jordania pada tahun 2001. Kalender universal ini membagi wilayah dunia menjadi 2 region sehingga sering disebut Bizonal Hejri Calendar. Zona Timur meliputi  180° BT ~ 20° BB sedangkan Zona Barat meliputi 20° BB ~ Benua Amerika. Adapun kriteria yang digunakan tetap mengacu pada visibilitas hilal (Limit Danjon).

Pada hari pertama ijtimak zone Barat maupun zone Timur belum masuk dalam kriteria Limit Danjon. Dengan demikian awal bulan di masing-masing zona akan jatuh pada :  Zona Timur :  Selasa, 30 Agustus 2011 & Zona Barat :  Rabu, 31 Agustus 2011.

5. Menurut Kriteria Rukyat Hilal Arab Saudi

Kurangnya pemahaman terhadap perkembangan dan modernisasi ilmu falak yang dimiliki oleh para perukyat sering menyebabkan terjadinya kesalahan identifikasi terhadap obyek yang disebut “Hilal” baik yang “sengaja salah” maupun yang tidak disengaja. Klaim terhadap kenampakan hilal oleh seeorang atau kelompok perukyat pada saat hilal masih berada di bawah “limit visibilitas” atau bahkan saat hilal sudah di bawah ufuk sering terjadi.  Sudah bukan berita baru lagi bahwa Saudi kerap kali melakukan istbat terhadap laporan rukyat yang “kontroversi”.

Kalender resmi Saudi yang dinamakan “Ummul Qura” yang telah berkali-kali mengganti kriterianya hanya diperuntukkan sebagai kalender untuk kepentingan non ibadah. Sementara untuk ibadah Saudi tetap menggunakan rukyat hilal sebagai dasar penetapannya. Sayangnya penetapan ini sering hanya  berdasarkan pada laporan rukyat dari seseorang tanpa terlebih dahulu melakukan klarifikasi dan konfirmasi terhadap kebenaran laporan tersebut apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah sains astronomi khususnya Teori Visibilitas Hilal.

Menurut Kalender Ummul Qura’ :

Kalender ini digunakan Saudi bagi kepentingan publik non-ibadah. Kriteria yang digunakan adalah “Telah terjadi ijtimak dan bulan terbenam setelah matahari terbenam di Makkah” maka sore itu dinyatakan sebagai awal bulan baru. Pada hari pertama ijtimak/konjungsi kondisinya sudah memenuhi syarat. Dengan demikian awal bulan akan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

Menurut Kriteria Rukyatul Hilal Saudi :

Rukyatul hilal digunakan Saudi khusus untuk penentuan bulan awal Ramadhan, Syawal dan Zulhijjah. Kaidahnya sederhana “Jika ada laporan rukyat dari seorang atau lebih pengamat/saksi yang dianggap jujur dan bersedia disumpah maka sudah cukup sebagai dasar untuk menentukan awal bulan tanpa perlu perlu dilakukan uji sains terhadap kebenaran laporan tersebut”.

Melihat posisi Hilal, mustahil hilal dapat dirukyat di Saudi pada hari pertama ijtimak  Namun demikian seperti kebiasaan sebelumnya diperkirakan ada yang mengaku berhasil rukyat (klaim) sehingga awal bulan akan jatuh pada : Selasa, 30 Agustus 2011.

Jika tidak ada laporan rukyat (harusnya) maka awal bulan akan jatuh pada: Rabu, 31 Agustus 2011.

6. Kriteria Awal Bulan Negara-negara Lain

Seperti kita ketahui secara resmi Indonesia bersama Malaysia, Brunei dan Singapura lewat pertemuan Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) telah menyepakati sebuah kriteria bagi penetapan awal bulan Komariyahnya yang dikenal dengan “Kriteria Imkanurrukyat MABIMS” yaitu umur bulan > 8 jam, tinggi bulan > 2° dan elongasi > 3°. Belakangan ternyata kriteria ini hanya digunakan oleh Indonesia dan Malaysia saja. Sementara Singapura menggunakan Hisab Wujudul Hilal dan Brunei Darussalam menggunakan Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas.

Menurut catatan Moonsighting Committee Worldwide ternyata penetapan awal bulan ini berbeda-beda di tiap-tiap negara. Ada yang masih teguh mempertahankan rukyatul hilal bil fi’li ada pula yang mulai beralih menggunakan hisab atau kalkulasi. Berikut ini beberapa gambaran penetapan awal bulan Komariyah yang resmi digunakan di beberapa negara :

1. Rukyatul Hilal berdasarkan kesaksian Perukyat  (Qadi) serta dilakukan pengkajian ulang terhadap hasil rukyat secara ilmiah antara lain dilakukan oleh negara-negara : Banglades, India, Pakistan, Oman, Maroko, Trinidad dan Brunei Darussalam.

  1. Hisab dengan kriteria bulan terbenam setelah Matahari dengan  diawali ijtimak terlebih dahulu (moonset after sunset). Kriteria ini digunakan oleh  Saudi Arabia pada kalender Ummul Qura namun khusus untuk Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah menggunakan pedoman rukyat.
  2. Mengikuti Saudi Arabia misalnya negara : Qatar, Kuwait, Emirat Arab, Bahrain, Yaman dan Turki, Iraq, Yordania, Palestina, Libanon dan Sudan.
  3. Hisab bulan terbenam minimal 5 menit setelah matahari terbenam dan terjadi setelah ijtimak  digunakan oleh negara Mesir.
  4. Menunggu berita dari negeri tetangga –> diadopsi oleh Selandia Baru  mengikuti  Australia dan Suriname mengikuti negara Guyana.
  5. Mengikuti negara Muslim yang pertama kali berhasil rukyat  –> Kepulauan Karibia
  6. Hisab dengan kriteria umur bulan, ketinggian bulan atau selisih waktu terbenamnya bulan dan matahari –> diadopsi oleh Algeria, Turki, Tunisia dan Malaysia.
  7. Ijtimak Qablal Fajr atau terjadinya ijtimak sebelum fajar  diadopsi oleh negara Libya.
  8. Ijtimak terjadi sebelum matahari terbenam di Makkah dan bulan terbenam sesudah matahari terbenam di Makkah –> diadopsi oleh komunitas muslim di Amerika Utara dan Eropa (ISNA)
  9. Nigeria dan beberapa negara lain tidak tetap menggunakan satu kriteria dan berganti dari tahun ke tahun
  10. Menggunakan Rukyat Mata Telanjang : Namibia, Angola, Zimbabwe, Zambia, Mozambique, Botswana, Swaziland dan Lesotho.
  11. Jamaah Ahmadiyah, Bohra, Ismailiyah,  serta beberapa jamaah (tarekat) lainnya masih menggunakan hisab urfi yang sangat sederhana.

 

*Sumber: Rukyatul Hilal

10 Komentar leave one →
  1. Gun gun Wahyudiana permalink
    Agustus 29, 2011 2:16 pm

    Saran dan Masukan Untuk Para Petinggi Depag, Pemuka Agama dan Pembuat Kalender :

    Untuk tahun-tahun berikutnya, Kalau Bisa tidak langsung mencetak/Menulis Tanggal Idul Fitri pada Kalender, Karena Mayoritas Umat muslim kita banyak yang Awam, dan menganggap, Tanggal di Kalender sudah fix merupakan hari Raya Idul fitri, Lebih baik menulis Prediksi Lebaran dengan menandai 2,3 atau 4 hari untuk hari raya idul fitri, misal untuk lebaran tahun ini, di kalender yang tercetak ada penandaan bahwa kemungkina Lebaran akan jatuh antara tanggal 29-31 Agustus, di bawah kalender ada semacam notes : “Untuk Kepastian Hari Raya Idul Fitri Menunggu Sidang Itsbat yang akan di lakukan Departemen Agama RI “.

    Saya Yakin Insya Alloh Hal ini akan membantu pemahaman Masyarakat Awam, Bahwa penentuan Idul Fitri harus menunggu Sidang Itsbat, bukan melihat tanggal yang tercetak di Kalender.

    Mohon Saran ini bisa di sampaikan pada pihak yang Terkait.

    • Agustus 29, 2011 2:46 pm

      terimaksih telah singgah Bang …
      kalo saya ini bagian dari “rahmat”. inilah ilmu Tuhan, ilmu sekabehane alam😀

  2. wahyu wibowo permalink
    Agustus 29, 2011 6:06 pm

    jadi kesimpulannya indonesia hari apa mas?

    • Agustus 29, 2011 9:31 pm

      kawan2 NU ngikut pemerintah RI (31/08/11), sedangkan Muhammadiyah & beberapa yang lainnya lebaran sekarang (30/08/11)
      *terima kasih telah singgah–happy ied bang😀

  3. MUZAKKIR ZULKIFLI permalink
    Agustus 29, 2011 11:24 pm

    Bagi Ormas2 termasuk muhammadiyyah mari kita bersama2 mengedepankan syiar Islam…kami rakyat bisa melihat bahwa pemerintah tidak asal-aslan menetapkan hari raya…janganlah kita buat banyak menteri agama di negeri ini, apa lagi mengumumkan hari raya jauh-jauh hari…insya allah keputusan menag itu..syar,i dan tidak ada bid’ahnya….jng hobilah utk bersebrangan…apa salahnya ikut pemerintah…kami tahu muhammadiyah lebih senior dari Ri , lahir 1911 ri baru merdeka 1945…gak salah kita patuh pada junior asal itu demi kemaslahatan ummat.janganlah kita buat negara lagi dalam negara..Masyarakat sekarang sdh cerdas gak usahlah ormas itu mndoktrin msyarakat.

    Utk kementerian agama kita berharap utk penetapan tggl idul fitri di kalender harus betul2 jangan membingungkan masyarakat..klo bisa dlm bentuk prediksi ajalah..masyarakat biar tmbah cerdas dlm mensikapinya.

    klo bisa wewnang ormas itu dibatasi…terutama utk yang sifatnya demi kemaslahhatan ummat dan ibadahnya bersifat jam’i dan ada unsur syiar Islam…itu ambil alih aja oleh negara…jngn beri hak kepada ormas utk mengummkan..termasuk seperti hari raya. dan puasa ramadhan..beri sangsi pada ormas-ormas yang nakal..

    JANGAN SAMPAI TERKESAN PADA MASYARAKAT BAHWA ORMAS ITU AGAMA ATAU MAZHAB BARU…YANG BIASA-BIASA SAJALAH…MAU BERGERAK DI BIDANG PENDDIKAN ..YA BERGERAKLAH DENGAN MAKSIMAL,,DI BIDANGSOSIAL..YA BERBUATLAH SEMAKSIMAL MUNGKIN..JANGAN MENGGANGGU PEMERINTAHLAH…

    HILANGKAN SENTIMEN-SENTIMEN ANTAR ORMAS………….KEDEPANKAN LOGIKA DAN PEMAHAMAN AGAMA YANG SEHAT……

    BERSATULAH SELALU…..BIASAKANLAH UTK MENGALAH UTK KEPENTINGAN BRSAMA…
    ALLLAHU AKBAR…..

    • Agustus 30, 2011 7:33 am

      SEPAKAT, Om😀
      kesannya memang ada “semacam gengsi ormas” dalam tiap kali menentukan 1 syawal ini. namun, lebih dari itu; secara pribadi saya berkeyakinan bahwa “اِخْتِلاَفُ أُمَّتِي رَحْمَةٌ”

      tinggal kita secara pribadi dapat lebih “arif” dalam memakanai ini.
      *terimakasih telah singgah, happy ied🙂

  4. faqih permalink
    Agustus 30, 2011 10:32 am

    Sebagai orang awam saya malah tambah bingung, semua negara mempunyai tafsiran, cara dan aturan masing-masing, semuanya merasa paling benar dan paling sesuai syariah termasuk Indonesia (?) dan menyalahkan/menyepelekan cara yang dipakai negara lain, siapa yang harus dipercaya, hanya Allah SWT yang bersifat haqqul yakin. Saya sangat rindu umat Islam di dunia duduk satu meja untuk untuk mencari titik temu, sehingga semuanya dapat merayakan idul fitri/adha pada hari tanggal yang sama, Insya Allah. Umat pun tidak ada yang bingung lagi,.

    • Agustus 30, 2011 10:04 pm

      sekali lagi “perbedaan itu rahmat” dan “fitrah” tentunya😀
      *(bagi orang yang berpikir positif)

      TERIMAKASIH TELAH SINGGAH, KAWAN🙂

  5. abu azcha permalink
    Agustus 30, 2011 8:09 pm

    untuk Faqih… sptnya ga mungkin deh klw seluruh negara di dunia duduk satu meja untuk menenukan hari h idul fithri, karena dasar penetapan idul fithri adalah terbitnya bulan, dimana pada tiap negara memang beda.
    Berbeda dengan idul adha dimana patokannya adalah negeri saudi arabia, maka memang negara-negara di seluruh dunia harus sama harinya karena merujuk pada satu tempat yang sama.

    • Agustus 30, 2011 10:07 pm

      sepengetahuan saya, tiap menentukan awal bulan. memang melihat (disamping menghitung) bulan–tepatnya peredaran bulan🙂
      *perbedaan itulah bagian dari “ilmu Tuhan”

      TERIMAKASIH TELAH SINGGAH, KAWAN😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: