Skip to content

Kharisma Spiritual

September 5, 2011

Islam adalah agama yang cukup kompleks atas berbagai persoalan, jika ummatnya cukup aktif menggunakan daya fikirnya sebagai bekal dia di beri mandat untuk merasionalkan segala wujud alam yang ada ini. Karena akal itulah manusia mempunyai fungsi dan peran, sebaliknya ketika manusia sama sekali tidak mengfungsikan daya nalar akalnya, maka dia belumlah dapat mengetahui natijah dari segala mandat yang telah diberikan oleh Tuhan.

Dalam karyanya bukunya Harun Nasution mengatakan bahwa akal adalah bentuk kata benda yang selain wahyu. Akal juga mempunyai makna implisit bahwa akal bisa di kategorikan sebagai al-hijr yang artinya menahan, atau juga an-nuha yang berarti kebijaksanaan, selanjutnya akal juga mengandung arti al-qolb yaitu hati. Sesuai dengan FirmanNYA dalam surat al-hajj ayat 47 yang arti “apakah mereka tidak melakukan perjalanan di muka bumi dan mereka mempunyai qolbu untuk memahami atau telinga untuk mendengar, sesungguhnya bukanlah mata yang buta, tetapi hati di dalam dadanya yang buta

Al Kindi (796-873 M), filosof Islam pertama menjelaskan bahwa pada jiwa manusia terdapat tiga daya, daya bernafsu al-quwwatussyahwaniyyah (yang berada di perut), daya berani al-quwwatul ghodhobiyyah yang terdapat di dada, dan daya berfikir al-quwwatunnathiqoh yang berpusat di kepala. Ibn Maskawih ((941-1030 M) juga memberi pembagian yang sama. Daya terendah adalah daya nafsu an-nafsulbahimiyyah dan daya tertinggi adalah daya berfikir an-nafsunnathiqoh, daya berani annafsussabu’iyyah.

Manusia adalah bagian alam diantara isi alam yang mempunyai peran untuk melestarikan alam ini, sehingga manusia ini diberi sebuah daya yang disebut sebagai akal. Jiwa manusia hanya mempunyai daya berfikir yang disebut akal (sebagaimana di atas bahwa akal itu mempunyai beberapa arti, termasuk juga alqolb “hati”), akal terbagi menjadi dua :

  1. Akal praktis (‘amilah) yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indra pengingat.
  2. Akal teoritis (‘alimah) yang menangkap arti arti murni, arti arti yang tak pernah ada dalam materi, seperti Tuhan, roh dan malaikat.

Akal praktis memusatkan perhatian pada alam materi, menangkap kekhususan (juz’iyyat/particulars). Sebaliknya akal teoritis bersifat metafisis, mencurahkan perhatian kepada dunia immateri dan menangkap keumuman (kulliyat/universal).

Dalam pengertian singkat bahwa sebetulnya semua alam ini adalah rasional. Kalau di uraikan bahwa akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan. Juga akal bisa membedakan antara yang baik dan yang benar.

Al qur’an sebagai pedoman inti bagi ummat Islam tidak memberikan sebuah keterangan yang lengkap dan menyeluruh atas berbagai persolan, akan tetapi Al-qur’an adalah pedoman kamus besar yang harus memiliki tarjamah tentang berbagai persoalan di sepanjang zaman, dan di segala sudut aspek kehidupan, inilah kemudian bahwa tarjamah al-qur’an yang secara mau’dhu’i (tematik) adalah bersumber dari daya ijtihad manusia (daya menggerahkan sebuah pikiran untuk mampu mentafsirkan al-quran sesuai dengan kondisinya tanpa berpaling dari esensi dasar dari isi kandungan tersebut).

Isi dunia adalah tidak lepas dari filsafat dan wahyu, keduanya sama sama merupakan scintifik/pengetahuan, hanya saja bahwa wahyu itu adalah berupa pengetahuan yang datang dari luar diri manusia yaitu Tuhan, maka dari itu wahyu adalah sebuah pengetahuan yang di dalamnya terdapat seruan/perintah-perintah Tuhan (konstitusi syari’ah).

karena pada dasarnya akal adalah menmpati pada makna al-qolb “hati” maka jelas bahwa daya akal manusia mampu menela’ah kebaikan dan kejelekan yang keduanya haruslah di amaliyahkan, dalam arti “manusia yang cerdas berfikirnya akan mengaktualisasikan bangunan-bangunan pemikiran yang membawa pada kemaslahatan, dan sebaliknya manusia yang bijak (karena akal juga mempunyai posisi makna ulinnuha/bijaksana) hendaklah mampu meminimalisir kejelekan, (karena tidak ada manusia yang sempurna selain nabi).

Dari posisi akal yang memiliki makna yang kompleks dalam jiwa ruhaniyyah,jasmaniyyah  inilah pada akhirnya dalam peran manusia memiliki konsep khusnul khuluq untuk melangsungkan hidupnya. Karena dalam bahasa Al-qur’an itu tidaklah di bahas bagaimana sistem ekonomi yang baik, apakah kapitalisme, sosialisme,borjuis,matrealis???? begitu juga pada aspek sosial politik budaya, dll. Itu merupakan bentuk penghormatan terhadap manusia, sebagaimana firman Alloh yang intinya bahwa Alloh telah memberikan kelebihannya,serta menundukkan semuanya termasuk juga para malaikat yang bersujud kepadanya, tidak lain itu adalah penghormatan terhadap potensi akal yang mampu mengkolaborasikan antara kebenaran, kebijakan, kemaslahatan.

Dalam perintahNYA manusia di tuntut untuk bersujud, bertebaran, berpengtahuan, yang itu hanyalah semata-mata untuk totalitas ketauhidan (persoalan kesempurnaan ketauhidan manusia dalam segala gerak amaliyyah, alamiyah). Maka sesungguhnya bertemulah dua unsur dalam diri manusia, yaitu unsur tauhid/teologi dan unsur falsafati/filsafat. Karena filsafat adalah gerak amaliyah ilmiyah tarjamah burhani, yang di temukan pada singgung garis vertikal dan horizontal. Kesalehan sosial sebagai bentuk terjamah burhani secara kongkrit yang harus di transendentalkan pada hal robbaniyyah.

*Courtesy: Wahyuni Yuni

3 Komentar leave one →
  1. November 17, 2011 10:02 pm

    kalau warna agak merah mudah apa khasiat nya
    tlong d jawab

  2. November 17, 2011 10:03 pm

    tlong d jawab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: