Skip to content

Persekongkolan di Balik Perampokan Pulsa Masyarakat

Oktober 6, 2011

Ada Persekongkolan di Balik Perampokan Pulsa Masyarakat?

Sejak usai shalat Maghrib, teras mushola penuh santri dan para sufi yang ribut membincang kasus Rame-rame Maling Pulsa Masyarakat. Sukiran yang merasa paling sering kehilangan pulsa marah-marah, mengumpati operator, content provider dan ujungnya pemerintah  yang dianggap saling bersekongkol satu sama lain.

Dullah yang mendengar umpatan Sukiran sengaja menggoda dengan berkomentar,”Jangan gampang su’u dzan. Itu tidak baik apalagi sampai menuduh ada persekongkolan segala. Jika tidak terbukti, itu namanya fitnah.”

Tersinggung dituduh memfitnah, Sukiran menyalak keras,”Aku punya hipotesis  menduga ada persekongkolan dalam kasus merampok pulsa masyarakat itu. Aku tidak ngawur.”

“Hipotesis apa toh Ran?” sahut Dullah memancing.

“Ya hipotesis bahwa kasus itu sebuah persekongkolan.”

“Dasar pijakanmu apa?” tanya Dullah ingin tahu.

“Komentar-komentar dari pihak berwenang, adem ayem saja dan benar-benar menganggap kasus itu sebagai hal lumrah. Padahal, jelas-jelas itu kasus kriminal. Korban yang kehilangan pulsa ada. Maling yang merampok pulsa juga ada. Tapi tidak ada tindakan apa-apa kepada bajingan-bajingan bejat itu. Berkali-kali di televisi pejabat terkait selalu mengatakan sudah pernah memberi teguran kepada operator. Itu alasan apa? Wong jelas-jelas tindak kriminal kok cuma ditegur,” sahut Sukiran menahan marah.

“Apa hanya itu pijakan alasan dari hipotesismu?” tanya Dullah memancing.

“Alasan pihak operator,” sahut Sukiran dengan suara tinggi,”Cukup mengatakan bahwa jika di antara 156 content provider ada satu yang nakal, maka itu wajar saja. Masya Allah, itu benar-benar jawaban orang tidak bermoral karena sangat mungkin dia menjadi bagian dari persekongkolan jahat itu. Bagaimana tindak kriminal menguras pulsa bernilai puluhan miliar setiap bulan sampai triliunan selama bertahun-tahun dianggap wajar?”

“Ya cukup masuk akal juga analisismu untuk menyusun hipotesis,” sahut Dullah,”Tapi apalagi?”

“Kalau memang negara ini negara hukum di mana segala sesuatu harus diselesaikan secara hukum, seperti yang berulang-ulang diucapkan Pak Presiden, tentu kasus mega rampok triliunan rupiah ini harus ditindak lanjuti. Bukankah sangat mudah menelusuri kasus kejahatan itu, karena semua transaksi antara content provider dengan masyarakat tercatat dan tersimpan di Bank Data operator. Tapi sejauh ini, semua yang dibahas di media massa bermacam-macam alasan yang berbelit tentang pasal-pasal  Undang-undang, peraturan menteri, ini dan itu, yang sedikit pun tidak mengarah kepada bajingan-bajingan content provider yang jelas-jelas telah merampok pulsa masyarakat,” kata Sukiran dengan mata berkilat-kilat.

“Menurut hematmu, apa sebenarnya di balik kasus perampokan pulsa triliunan rupiah ini?” tanya Dullah tiba-tiba bersemangat ingin tahu.

“Aku menduga ada parpol tertentu yang sedang mengumpulkan dana untuk kepentingan 2014,” sahut Sukiran dengan suara tinggi,”Dengan merampok secara besar-besaran pulsa masyarakat, dalam waktu singkat sudah terkumpul triliunan rupiah dana. Nah saat ketahuan, semua bicara soal teknis atau soal peraturan dan undang-undang, tapi sedikit pun tidak menyinggung kemungkinan menangkap perampok pulsanya,” kata Sukiran.

“Jadi?” tukas Dullah penasaran,”Ujung dari dugaanmu?”

“Yang punya content provider itu orang-orang partai tertentu atau orang-orang yang punya hubungan dengan pejabat partai tertentu. Jadi, menurut hipotesisku, sekalipun kasus kejahatan kriminal ini sudah terbongkar dan gampang melacaknya, mustahil ada pemilik content provider yang merampok pulsa masyarakat triliunan rupiah itu bakal diseret ke pengadilan. Bahkan nama-nama mereka pun akan dilindungi dengan alasan, menjaga rahasia negara.”

“Whuahahahaa,” sahut Dullah ketawa terkekeh-kekeh diikuti santri-santri, lalu sambil menahan geli ia berkata,”Berarti kasus rampok pulsa ini akan menguap seperti kasus-kasus perampokan yang lain ya?”.

“Ya pasti, ini kan negeri tuyul, di mana manusia-manusianya banyak kerasukan ruh tuyul. Jadi suka sekali mencuri duit,” sahut Sukiran berapi-api, “Dan sepanjang sejarah, mana ada tuyul diadili di pengadilan…”

Dullah ketawa diikuti santri-santri yang ketawa terpingkal-pingkal.

 

*Courtesy: agus sunyoto

One Comment leave one →
  1. Agustus 26, 2015 8:41 am

    termakasih infonya, sangat bermanfaat , Adriana

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: