Skip to content

Anak Muda Tidak Boleh Jadi Pemimpin!!

November 9, 2011

Dinilai Money Oriented, Anak Muda Tidak Boleh Jadi Pemimpin

Usai kenduri tasyakuran memperingati Sumpah Pemuda, Sufi Kenthir memutar rekaman dari stasiun TV yang mewawancarai Marzuki Ali, Ketua DPR RI tentang wacana memotong generasi dalam rangka memunculkan kader-kader muda bangsa dalam kepemimpinan nasional. Tapi baru beberapa bentar menyaksikan Marzuki Ali berkomentar, anak-anak kampung yang dikordinasi Sukiran itu sudah berteriak-teriak dengan nada marah. Mereka tersinggung dengan pernyataan Marzuki Ali yang menggeneralisasi anak-anak muda sebagai generasi mata duitan yang tidak mungkin diberi tugas dan wewenang memimpin bangsa dan

“Simpulan Marzuki itu tidak benar,” teriak Bambang mengacungkan tangan ke atas,”Bagaimana dia bisa menyama-ratakan semua anak muda itu cara berpikir dan tindakannya selalu didasari uang. Itu mungkin kalau yang dijadikan sampel dari sejumlah populasi adalah anak-anak dan keponakan Marzuki sendiri yang kelihatannya hidup berkelimpahan duit. Untuk anak-anak bangsa yang jumlahnya 150 juta lebih ini mana bisa digeneralisasi mata duitan

“Ya itu kan alasan saja untuk mengabadikan diri?” sahut Dullah datar.

“Maksudnya mengabadikan diri itu apa kang?” tanya Bambang ingin tahu.

“Lha kalau semua generasi muda tidak boleh jadi pemimpin bangsa karena distigma mata duitan semua, kan Marzuki Ali dan konco-konconya tidak pernah tergusur dari kursi jabatannya? Marzuki akan berkuasa sampai usia tua bangka karena sampai kapan pun tidak ada anak muda yang pantas menggantikannya,” kata Dullah menjelaskan.

“Bener itu kang,” sahut Sukiran menimpali,”Paling seperti ganti kulit, kalau sudah setengah abad kuasa dan usia sudah tua bangka, tinggal operasi kulit untuk peremajaan agar tidak jadi tua bangka.”

Ketika tayangan rekaman selesai, anak-anak minta rekaman diulang. Dan selama menyaksikan ulangan, anak-anak terus berteriak-teriak memaki-maki pernyataan yang tidak pantas diucapkan oleh pejabat negara yang cerdas dan arif. Bambang yang emosi meminta penjelasan kepada Sufi Kenthir tentang kepemimpinan anak-anak muda dalam sejarah bangsa. “Apakah pernah orang muda bisa menjadi pemimpin kang?” tanya Bambang.

“Kalau dari sejarah, setahuku para pemimpin jaman dulu mengharuskan orang muda yang naik memimpin karena saat orang berusia 50 tahun, sudah harus lengser kaprabon madheg pandhita,” kata Sufi Kenthir.

“Lha mosok seperti itu kang?” tanya Bambang penasaran.

“Lha bagaimana, wong Hayam Wuruk waktu dinobatkan jadi Maharaja Wilwatikta usianya masih 16 tahun dan dia membuktikan kemampuannya memimpin negara. Coba kalian baca sejarah Trunojoyo, yang pada usia 16 tahun menikah dan usia 20 tahun mengangkat senjata dan pada usia 25 tahun dihukum mati. Tokoh Karaeng Galesong pun mengangkat senjata saat usia 16 tahun dan dihukum mati usia 26 tahun,” kata Sufi Kenthir menjelaskan.

“Tapi itu kan zaman kuno kang,” tukas Bambang.

“Lha apa kamu tidak ngerti, waktu menuju gerbang  kemerdekaan para pejuang yang tampil berinisiatif adalah anak-anak muda usia sampai dikenal peristiwa Sumpah Pemuda. Apa ada dalam sejarah peristiwa Sumpah Orang Tua Bangka?” kata Sufi Kenthir dengan nada tanya.

“Tidak ada….!” sahut anak-anak kampung serentak.

“Para orang tua malah jadi antek penjajah kang,” sahut Bambang.

“Ya begitulah,” sahut Sufi Kenthir,”Asal kalian tahu saja, saat Indonesia mencapai kemerdekaan dan membentuk NKRI, elemen-elemen pendukungnya adalah anak-anak muda. Sutan Sjahrir usia 19 tahun, Sukarni, Chaerul Saleh, Sayuti Melik, dan pejuang yg lainadalah anak-anak muda. Bung Karno sendiri saat itu usia 44 tahun. Di kalanganm militer seperti Mayor Umar Wirahadikusumah usia 19 tahun, Mayor Kemal Idris usia 18 tahun, Mayor R.A.Kosasih usia 19 tahun, dan puluhan lagi tokoh militer RI berusia tidak lebih dari 20 tahun. Satu-satunya tokoh sepuh dalam perjuangan kemerdekaan adalah Haji Agus Salim yang berusia 65 tahun.”

“Lho kalau begitu sejak kapan orang mengabdi kepada negara harus usia tua?” tanya Bambang.

“Ya sejak Orde Baru yang dipimpin orang-orang tua bangka,” sahut Sufi Kenthir.

“Orde Baru kang?” kata Bambang geram,”Apa maksudnya kok ada kebijakan seperti itu?”

“Ya tentu saja untuk mengabadikan diri sebagai pemimpin bangsa dan negara karena anak bangsa yang boleh mengabdi yang usianya sudah di atas 55 tahun dan khusus jabatan presiden wajib usia di atas 60 tahun, bahkan lebih bagus yang usia di atas 80 tahun,” kata Sufi Kenthir.

“Kok bisa begitu, apa bagusnya pemimpin negara usia tua bangka?” tanya Bambang.

“Ya semua salah dan dosanya pasti diampuni karena mau diadili juga sudah bolak-balik semaput dan pikun lagi. Mana ada hukum bagi orang pikun?” kata Sufi Kenthir.

“Waduh bener juga ya,” kata Bambang mengetuk-ketuk keningnya,”Aku baru sadar kenapa Marzuki Ali bicara seperti itu, menstigma anak-anak muda sebagai mata duitan yang tidak pantas menjadi pemimpin bangsa dan negara.”

“Menurutmu kenapa Marzuki berpandangan seperti itu?” tanya Dullah.

“Dia itu kan kader Orde Baru? Konco-konconya di DPR dan pemerintahan kan juga kader Orde Baru? Jadi pantas semua menolak anak-anak muda maju karena itu bertentangan dengan cara pikir dan cara nalar Orde baru,” kata Bambang geleng-geleng kepala.

“Awas bahaya laten Orde Baru,” sahut Sukiran menimpali disambut teriakan ribut anak-anak kampung.

“Sudahlah,” sahut Sufi Sudrun tiba-tiba menyela,”Semua terserah genarasi muda. Maksudnya, apa pun yang dikatakan  Marzuki Ali tentang generasi muda  kalau faktanya  anak-anak muda mau menerimanya, kalian mau apa? Kita ini sih justru ingin tahu bagaimana reaksi anak-anak muda terhadap komentar Marzuki itu.”

“Maksudnya kang?” tanya Dullah.

“Ya kalau anak-anak muda hanya ketawa-ketiwi dianggap mata duitan, kan simpulan Marzuki tidak salah? Maksudnya, kalian semua itu adalah orang-orang mata duitan.”

“Eemh, benar juga ya kang?”

*Courtesy: Mbah Agus Sunyoto

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: