Skip to content

Lupakan Kebijakan Moneter, Perkuat Sektor Riel saja!

Desember 16, 2011

Forget monetary policy. Re-examining the cause of the Great Depression—the revolution in agriculture that threw millions out of work—the author argues that the U.S. is now facing and must manage a similar shift in the “real” economy, from industry to service, or risk a tragic replay of 80 years ago.DOMINO THEORY The financial meltdown is the Depression parallel everyone notices. The more frightening parallel is everything else. It has now been almost five years since the bursting of the housing bubble, and four years since the onset of the recession. There are 6.6 million fewer jobs in the United States than there were four years ago. Some 23 million Americans who would like to work full-time cannot get a job. Almost half of those who are unemployed have been unemployed long-term. Wages are falling—the real income of a typical American household is now below the level it was in 1997.

***

Bagaimana Ekonomi 2012? Nasehat Stiglitz: Lupakan Kebijakan Moneter, Perkuat Sektor Riel saja!

Ada sebuah tulisan dari ekonom asal AS, Joseph E. Stiglitz di majalah “Vanity Fair’ yang akan diterbitkan bulan depan (January 2012), berjudul “The Book of Jobs” [link: http://www.vanityfair.com/politics/2012/01/stiglitz-depression-201201#%5D. Tulisan  diatas sangat menarik disimak oleh kalangan ekonomi, Pejabat Pemerintah dan Pengusaha Swasta di Indonesia, karena datang dari seorang pakar yang sangat kritis dalam melihat berbagai krisis ekonomi di dunia selama ini, khususnya di AS, Eropa dan negara berkembang.  Tulisan ini memberikan inspirasi bagi pemgambil kebijakan ekonomi di kalangan Pejabat Pemerintahan, dan Pelaku ekonomi Swasta, agar mereka tidak ikut terlalu jauh terperosok ke jurang kehancuran akibat bencana di sektor keuangan (financial dissaster) yang sedang melanda AS dan Eropa sejak 2008 lalu (AS) dan di Eropa (2011).

Secara kopseptual, krisis keuangan yang melanda AS dan Eropa di tahun 2008 dan 2011 ini, sangat erat kaitannya dengan pilihan kebijakan ekonomi (economic policy choice) yang diambil oleh kebanyakan Negara di dunia di awal 1990-an dulu. Tadinya sejak krisis depressi besat (great depression) yang melanda AS di tahun 1930-an lalu, seorang ekonom Inggris Sir John Meynard Keynes, menulis sebuah buku terkenal yang menjadi dasar pengajaran ekonomakro hingga saat ini ‘The General Theory’. Buku ini merupakan solusi bagi krisis yang terjadi waktu itu di AS dan effeknya ke seluruh dunia. Keynes secara sederhana menyarankan, agar teori ekonomi klassik & neo-klassik ditinggalkan saja didalam menangani Pasar yang tak kunjung menuju titik kesetimbangannya pada waktu itu. Keynes kemudian menyarankan, agar Negara ikut terlibat dalam mengatur kegiatan ekonomi di Pasar, dengan melakukan serangkaian kebijakan di sektor riel (pasar barang dan pasar tenaga kerja), yang kemudian disebut ‘kebijakan fiskal’. Dan kebijakan di pasar keuangan dan pasar modal, yang kemudian disebut sebagai kebijakan moneter. Tapi menariknya, Keynes dan pengikutnya (Keynesian), lebih menekankan pada dilakukannya kebijakan yang berkaitan dengan sektor riel (yaitu ‘fiscal policy’) agar produksi meningkat pesat melalui kebijakan pengurangan pajak dan suku bunga yang terjangkau investor, kebijakan fiskal untuk mendorong investasi dan net-export tumbuh pesat, serta mendorong konsumsi dalam negeri dengan mengendalikan inflasi. Dia juga menganjurkan perbaikan upah buruh agar daya beli konsumen meningkat sehingga meransang pasar untuk tumbuh lebih cepat. Intinya, Keynes dan pengikutnya sangat menyarankan, bahwa kalau GDP mau tumbuh tinggi, bekerja keraslah dengan membangun sektor riel saja. Sementara sektor moneter (pasar keuangan dan pasar modal ), dikembangkan ala kadarnya saja, sekedar mengikuti volume perkembangan produksi barang dan jasa.

Pemikiran ini bertahan setidaknya sejak PD II hingga awal 1980, sampai Ronald Reagen dan Margareth Tatcher mengumumkan program ‘Reagenomics’, yang tak lain adalah konsep ‘back to cllassical model’ dengan penekanan utamanya ‘mengkebiri peran Negara’ dalam ekonomi, yang dituding penyebab in-effisiensi sehingga memperlambat pertumbuhan ekonomi. Pada saat bersamaan, ekonom dari Universitas Chichago AS, yang disebut kaum Monetarist, dibawah pimpinan Milton Friedman, mengkritik habis pula pemikiran Keynes selama ini yang hanya mementingkan sektor riel untuk memicu pertumbuhan GDP, tanpa menghiraukan peran pasar keuangan dan pasar modal (sektor moneter). Friedman berpandangan, kalau suatu Negara mau cepat kaya dengan GDP yang tumbuh cepat, caranya bukan dengan mengutamakan membangun sektor riel, tetapi dengan membangun sektor moneter karena disanalah dengan mudah duit diperoleh. Caranya tentulah dengan membangun sistem Pasar Uang dan Pasar Modal yang benar-benar bebas dari segala bentuk intervensi negara. Pemikiran ekonom ‘Reagenomics’ dan “Monetarist’ inilah yang menjadi dasar semua pelaku ekonomi, terutama di kalangan pemerintahan di banyak negara di dunia semenjak tahun 1990 lalu hingga munculnya krisis keuangan (global financial global) di AS tahun 2008 lalu dan di Eropa tahun 2011 ini.

Banyak Negara yang mengikuti pemikiran ekonom ‘Reagenomics’ dan “Monetarist’ itu kemudian mengembangkan Pasar Keuangannya dan Pasar Modalnya (Bursa Saham), tak terkecuali Indonesia. Bukan hanya Swasta, tapi juga Negara pun ikut-ikutan menikmati ‘banjir uang’ yang bisa dipanen di pasar uang dan pasar modal itu, seperti menerbitkan SUN misalnya. Kemakmuran yang dijanjikan kaum monetaris selama kurun wakti hampir 2 dasawarsa ini (sejak 1990-an sampai 2008), memang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita negara-negara yang mengikuti pemikiran Friedman itu meningkat sangat tajam dan GDP mereka tumbuh sangat fastastik. Akhirnya, banyak negara yang terlena dengan ‘obat bius kaum monetarist’ itu, mereka lebih suka bermain-main kertas di pasar modal atau pasar uang daripada membangun sektor rielnya, atau sektor industrinya. Tapi apa lacur, GDP yang membengkak dan kekayaan yang melimpah karena ‘barokah’ di sektor keuangan dan pasar modal itu, ternyata tak lebih seperti pelembungan (”Bubble Economy”), yang bisa pecah ketika kelamaan di tiup dengan berbagai rekayasa keuangan dan rekayasa mempermainkan index harga saham. Maka terjadiilah kemudian bencana itu, bencana sektor keuangan (dissarter financial sector), mirip krismon di Indonesia 1997 lalu, tapi dalam skala raksasa.

China, India dan Indonesia agak selamat dari krisis keuangan itu, akibat mereka tak terlalu ikut-ikutan atas saran orang-orang monetarist itu. Meskipun ikut ‘free trade’ dalam pasar dunia, ketiga negara itu tetap memfokuskan pada kegiatan sektor ekonomi rielnya, seraya menerapkan serangkaian kebijakan hati-hati dan ketat dalam kebijakan moneternya dan kebijakan fiskalnya. Mereka ternyata selamat. Itulah sebabnya, ekonomi senior Stiglitz, dalam pencerahannya di awal tahun 2012 yad ini, menyarankan kepada negara-negara di dunia (terutama di AS dan Eropa), agar mereka melupakan saja kebijakan moneter yang hanya menumbuh-suburkan pasar keuangan dan pasar modal saja, tetapi konsentrasikanlah perhatian kepada kebijakan fiskal. Sebuah kebijakan fiskal yang akan meransang tumbuhnya konsumsi dalam negeri, minat berinvestasi di sektor riel, pengeluaran Negara yang pro-rakyat, pengenaan pajak yang adil, dan dorongan serta insentif yang bisa menaikan expor nasional. Serta perbaikan upah buruh dan PNS/TNI/POLRI.

 

*Courtesy: annisa haque

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: