Skip to content

Kyai Sholeh Bahruddin; Guru Tasamuh Pengayom Semesta

Februari 12, 2012

Lekat dalam ingatan KH. Sholeh Bahruddin ketika gurunya, KH. Munawwir dari Tegalarum, Kertosono, Nganjuk, menasehatinya. Beliau meminta Sholeh muda mengalah pada adik-adiknya dengan mendirikan pesantren sendiri. “Ngalah iku barokah (mengalah itu dapat barokah, red.) !” pesan Kiai Munawwir.

Istilah Ngalah itu oleh Kiai Sholeh dijadikan nama pesantren yang didirikannya pada 1985 M. Pondok Ngalah, pesantren salaf yang terletak di Dusun Pandean Desa Sengonagung Kec. Purwosari, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, kini telah berkembang menjadi Yayasan Darut Taqwa PP Ngalah yang memiliki berbagai lembaga pendidikan.

Pendidikan nonformal mulai shifr (setingkat TK, red.) hingga mu’allimin (setingkat sekolah guru, red.). Sedang pendidikan formal, mulai Ibtidaiyah sampai Perguruan Tinggi Universitas Yudharta yang berdiri pada 2002. Santrinya lebih dari 10.000 orang.

“Banyak santri non muslim belajar di Universitas Yudharta, meski kampus ini di bawah naungan pesantren. Bahkan, ada dosen non muslim masuk dalam naungan Yayasan Darut Taqwa,” kata Kiai Sholeh kepada Riyansyah, kontributor the WAHID Institute di Jawa Timur.

Mustasyar Nahdlatul Ulama Kabupaten Pasuruan ini berangan-angan, kampusnya menjadi pusat pengembangan komunitas dari latar belakang muslim dan non muslim. “Ini sesuai dengan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin,” katanya.

Kebesaran Kiai Sholeh dan pesantrennya tak lepas dari teladan ayah yang juga gurunya, KH. Mohammad Bahruddin Kalam, pengasuh PP Darut Taqwa Carat, Gempol, Pasuruan. Satu kisah keteladanan yang diajarkan kepadanya, adalah bagaimana Kiai Bahruddin melindungi kelompok minoritas.

Sikap ayahnya itu diteruskan Kiai Sholeh, melalui dialog dengan pemuka-pemuka agama non muslim. Namun itikad baiknya tak luput dari kritik, bahkan kecaman yang dilancarkan kelompok Islam garis keras.

Menanggapi hal itu, pria kelahiran Pasuruan 9 Mei 1953 ini, mengiaskan, “Kiai kok kumpul kiai. Ya sama dengan mur ketemu mur. Yang baik itu kan mur ketemu baut. Buat apa? Ya, buat mengikat NKRI, biar tidak coplok (bercerai berai, red .).”

Murid KH. Muslih, mursyid Tarekat Naqsabandiyyah dari Pesantren Mranggen, Jawa Tengah ini punya pandangan menarik tentang hukum berkawan dengan kaum muslim dan non muslim, termasuk doa bersama. Padahal yang membolehkan juga banyak, kata Kiai Sholeh seraya membacakan Qs. al-Mumtahanah ayat 8: “La yanhakum Allah ‘an alladzina lam yuqaatilukum fi al-din wa lam yukhrijukum min diyarikum ‘an tabarruhum wa tuqsithu ilaihim. Inna Allah yuhibb al-muqsithin.” (Allah tiada melarang kamu untuk berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak pula mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil).

Kiai Sholeh juga memaparkan beberapa referensi kitab kuning. Syaikh Zakaria al Anshori (w. 26H/ 1520M) dalam Kitab al-Jamal Syarah al- Minhaj menyebutkan, jawaz al-ta’min bal nudiba idzaa da’a linafsihi bi al-hidayah walana bi al-nashr matsalan (diperbolehkan mengamini doa, bahkan dianjurkan berdoa semisal untuk memohon hidayah dan pertolongan).

Ia juga merujuk al-Tafsir al-Munir karya Muhammad Nawawi al-Bantani (w. 1314H/ 1879M); berhubungan baik di dunia sebatas urusan yang nyata, maka hal itu tidak dilarang. “Istilahnya, walaupun mobil itu diciptakan orang Jepang, kalau bisa dipakai untuk jamaah manakiban, ya tetep mendapatkan manfaat, kan ?” seloroh Kiai Sholeh

*Courtessy: the wahid institute

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: