Skip to content

Nasihat Bisnis Ala MBA; “Jadilah Pemilik Usaha”

Februari 21, 2012

Meminjam terminologi Ippho Santosa, bahwa untuk menjadi seorang entrepreneur, Anda memerlukan MBA Versi 1.0. MBA disini bukanlah gelar akademis Master of Business Administration melainkan filosofi bisnis Management by Action.

Dalam hal ini Anda didesak untuk melangkah alias memulai bisnis, dan sesegera mungkin! Apalagi itu bisnis pertama Anda. Ringkasnya, action oriented. Anda mesti melepaskan diri dari belenggu (kinerja otak kiri) yang serba hitungan-hitungan. Ketahuilah, sebaik-baiknya bisnis adalah bisnis yang dibuka, bukan bisnis yang dihitung. Jika Anda terlalu banyak mikir, Anda tidak bakal melangkah. Akan tetapi, jika Anda memaksakan diri untuk melangkah, maka Anda akan mikir dengan sendirinya.

Disini, peran dari intuisi (kerja otak kangan) sangatlah dibutuhkan. Intuisi ini akan membawa Anda pada ihwal Anda bagai melihat sesuatu yang tak terlihat oleh kebanyakan orang. Intuisi dulu, baru analisis begitu nasihat Ipho dalam bukunya “13 Wasiat Terlarang”. Seorang entrepreneur yang ditawari suatu lokasi usaha, detik itu juga hatinya membatin, “Sepertinya di sini cocok buka pujasera”. Yap, intuisinya yang berbicara. Setelah itu, barulah otak kirinya yang berputar. Data-data pun dikumpulkan , dicermati dan ditimbang-timbang.

Pernahkah Anda menyaksikan entrepreneur membuka bisnis berdasarkan sebuah feasibility study? Langka! Dan tahukah Anda siapa yang paling sering mengutak-atik feasibility study? Yah, mereka yang hampir-hampir tidak pernah membuka bisnis, seperti mahasiswa, dosen, konsultan, peneliti, dan penulis. Iya tho?

Kembali kepada MBA Versi 1.0, yaitu filosofi Management by Action. Katakanlah, kita ingin berbisnis restoran. Maka, buka saja secepatnya! Sesederhana itu? Ya, sesederhana itu. Jangan dibawa ruwet, jangan dibawa ribet! Jika ternyata restoran kita sepi, barulah kemudian Anda mikir. Mungkin taste-nya yang salah. Mungkin pula promonya yang bermasalah.

Lantas, bagaimana pula jika ternyata restoran kita masih rugi? Mudah saja. Kita mikir lagi. Mungkin harganya yang belum nyucuk (pas). Mungkin pula biayanya yang belum ‘masuk’. Percayalah, dengan action niscaya kita akan mengetahui penyebab-penyebabnya secara pasti. Sepasti-pastinya! Bukan cuma berAndai-Andai. Bukan cuma mengira-ngira.

Setelah paham betul duduk persoalannya, barulah segala sesuatunya Anda sesuaikan. Adjusment demi adjusment. Inilah saatnya mendayakan MBA Vesi 2.0, yang merupakan kepanjangan dari Management by Adjusment. Apakah promo yang harus digenjot, apakah harga yang harus dilanmbungkan, apakah biaya yang harus dipangkas, yah apa sajalah. Pokoknya, kita otak-atik sedemikian rupa agar bisnis tetap jalan. Bayangkan, jika bisnisnya masih di atas kertas! Lha, apa yang mau diotak-atik.

Perihal action dan adjusment, suka atau tidak suka, sepertinya Anda mesti nyantri kepada salah seorang entrepreneur termuda di Kanada, yang merintis bisnisnya pada usia enam tahun. Bayangkan, dalam usia enam tahun! Marc Wright namanya. Dia adalah jenis bocah yang tidak suka bertele-tele. Berikut ini adalah action-nya. Ia mengetuk pintu beberapa rumah dan menyapa, “Hai, saya Marc! Saya kedinginan, lho. Begini, saya menjual kartu ucapan selamat. Kira-kira, Anda mau beli berapa banyak, ya? Ini ada setumpuk kecil.”

Kartu-kartu itu digambarnya sendiri. Tanpa disangka-sangka, ia mampu menjual sekitar 25 lembar kartu per jam, dengan harga 75 sen per kartu. Wuih, muanteb! Kemudian, Marc dan orang tuanya tersadar bahwa sekarang mereka memerlukan adjustment. Yap, itu betul sekali. Marc tidak bisa lagi melakoni semuanya dengan seorang diri. Ia pun merekrut 10 staf. Seketika itu juga, bisnisnya berkembang. Dalam setahun saja, Marc mampu membiayai dirinya dan kedua orang tuanya berlibur ke Disney World. Tidak cukup sampai di situ, pada usia 10 tahun wajahya menghiasi beragam media di negaranya.

Nah, selesai dengan action dan adjustmen, terus apalagi? Setelah dimulai dan disesuaikan, perlahan-lahan segala sesuatu harus disistemkan. Satu-satunya kata kunci di sini adalah sistem. Nah, sekarang giliran MBA Versi 3.0, yaitu Management by Administration.

Sadarlah, hanya dengan sistem, bisnis dapat diduplikasi. Hanya dengan sistem, bisnis dapat menghasilkan pasive income. Hanya dengan sistem, bisnis tidak harus ditungguin. Hanya dengan sistem, bisnis bisa jalan dan Anda bisa jalan-jalan. Hanya dengan sistem Anda layak menyAndang status sebagai business owner (pemilik bisnis), bukan sekedar business doer (pelaku bisnis).

 Waba’du, apapun rencana dan keinginan Anda tentang bisnis, ingatlah sebaik-baiknya bisnis adalah bisnis yang dibuka, bukan bisnis yang dihitung. Jika Anda terlalu banyak mikir, Anda tidak bakal melangkah. Akan tetapi, jika Anda memaksakan diri untuk melangkah, maka Anda akan mikir dengan sendirinya.

__________________________

*Diadopsi dari buku “10 Jurus Terlarang & 13 Wasiat Terlarang”, karya Ippho Santosa, PhG

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: