Skip to content

UNIVERSITAS YUDHARTA PASURUAN; Sintesa Pendidikan Tinggi Berbasis Multikultural

Februari 22, 2012

 

Bermula dari keinginan dan kemauan yang kuat, serta cita-cita besar KH. Sholeh Bahruddin dengan dukungan berbagai pihak, Universitas Yudharta Pasuruan berdiri berdasarkan SK Mendiknas No. 146/D/O/2002 dan diperbaharui oleh SK Dirjen DIKTI pada tanggal 9 Maret 2005, No. 919-929/D/T/2005, serta SK Dirjen BAGAIS No E/152/1997, dan pembaharuan SK No. Dj.II/549/2004 tanggal 11 Oktober 2004.

Saat ini Universitas Yudharta Pasuruan (UYP) berkembang sebagai bagian dari wujud kepedulian anak bangsa yang ingin ikut berpartisipasi dalam mencerdaskan kehidupan bangsanya.

Dengan memperhatikan permasalahan bangsa dan per-masalahan pendidikan di Indonesia, UYP sebagai salah satu institusi Perguruan Tinggi, ingin menjadikan kampusnya se-bagai kampus rakyat, yang mengantarkan mahasiswanya menjadi manusia kaffah; manusia relegius yang memiliki kualitas intelektual maupun kesalehan sosial, hidup dalam suasana toleren dan berdampingan (egaliter), selalu memberi ketenangan dan kedamaian, serta memiliki daya fungsi yang maksimal untuk sekalian umat. Harapan ini terukir dan ter-ejawantahkan dalam visinya sebagai universitas yang unggul dalam bingkai moralitas religius pluralistik, melalui penataan kehidupan kampus yang akademis dan multikultural.

Yudharta Memahami Realitas Bangsa

Sudah menjadi sunnatulah bahwa keragaman (pluralitas) merupakan realitas yang tidak dapat dihindari, baik pluralitas dalam hal agama, etnik maupun budaya masyarakat. Indonesia dikenal sebagai masyarakat majemuk (pluralistic society). Hal ini dapat dilihat dari realitas sosial yang ada, bukti ke-majemukan ini juga dapat dibuktikan melalui semboyan dalam lambang negara Republik Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Masyarakat Indonesia yang plural, dilandasi oleh berbagai per-bedaan, baik horisontal maupun vertikal. Perbedaan horisontal meliputi kesatuan-kesatuan sosial berdasarkan suku bangsa, bahasa, adat istiadat, dan agama. Sementara perbedaan yang bersifat vertikal yakni menyangkut perbedaan-perbedaan lapisan atas dan bawah, yang menyangkut bidang politik, sosial, ekonomi, maupun budaya.

Konflik dan pertikaian sebenarnya tidak hanya terjadi pada masyarakat plural, namun terjadi pula pada masyarakat yang relatif homogen. Namun yang pasti masyarakat plural (heterogen) relatif lebih sering mengalami konflik daripada masyarakat yang homogen. Masyarakat Jepang relatif jarang terjadi konflik, karena karakteristik homogennya, berbeda dengan masyarakat Indonesia.

Di Indonesia, wacana kerukunan dan toleransi antar umat beragama telah menyedot banyak energi dan pikiran. Fenomena disharmoni ditandai dengan beberapa benturan sosial yang dimanipulasi menjadi pertentangan antar kelompok umat beragama. Ketidakharmonisan antar pemeluk agama, secara kategoris simplistis dilatarbelakangi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal adalah faktor yang mempengaruhi seseorang bersikap disebabkan faham keagamaan terhadap ajaran agamanya. Seperti kecenderungan faham radikal-ekstrim dan fundamental-subjektif terhadap ajaran yang dianut. Demikian pula sikap eksklusifisme, literalisme dan kesalahpahaman. Selain itu sikap hedonitas dan oportunitas sebagai faktor eksternal dengan mengatasnamakan agama untuk komoditas kepentingan, telah menjadikan petaka kemanusiaan yang berkepanjangan. Dalam konteks inilah, pluraritas agama menjadi perhatian yang penting bagi masyarakat Indonesia. Terlebih jika kita melihat realitas bangsa, bahwa agama-agama besar di dunia, selain Yahudi, dapat hidup dan berkembang di Indonesia.

Mengingat secara geografis bangsa Indonesia terdiri belasan ribu kepulauan, maka pluralitas agama bisa dipastikan melahir-kan tradisi budaya yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan ini melahirkan implikasi yang dilematis. Pada satu sisi, keragaman ini akan melahirkan dinamika sosial yang ditandai dengan adanya kompetisi sosial dalam berbagai lapangan kehidupan, dan yang demikian bisa menjadi kekuatan pendorong lahirnya berbagai kreativitas sosial, sehingga ter-wujud pembaharuan dalam berfikir maupun bertindak. Namun pada sisi yang lain keragaman beragama apabila tidak mampu dikelola dengan baik, maka dapat menjadi sumber konflik sosial dengan kepekaan/sensitivitas yang tinggi.

Seiring dengan perkembangan masyarakat dewasa ini, suatu hal yang paradoks mungkin terjadi, globalisasi yang se-harusnya membawa arah positif (integrasi) ternyata juga ter-dapat indikasi-indikasi disintegrasi. Proses global yang di-refleksi oleh masyarakat akan memunculkan tanggapan yang berbeda, hal ini akan memunculkan resistensi yang berdampak disintegrasi, atau terlihat pula dari adaptasi-adaptasi yang di-lakukan masyarakat terhadap berbagai pengaruh globalisasi.

Globalisasi pada dasarnya telah melahirkan suatu jenis ideologi yang menjadi embrio pembentukan, pelestarian dan perubahan dasar masyarakat yang bertumpu pada proses identifikasi diri dan pembentukan perbedaan antara orang. Dalam hal ini kapitalisme akan menjadi kekuatan penting (apalagi setelah runtuhnya komunisme dan sosialisme) yang mengarah pada pembentukan status dengan simbol-simbol modernitas yang menegaskan nilai-nilai autentik.

Modernisasi akan membawa masyarakat ke dalam proses estetisasi kehidupan, yakni menguatnya kecenderungan hidup sebagai proses seni, produk yang dikonsumsi tidak lagi dilihat dari fungsi, namun dari simbol yang berkaitan dengan identitas dan status. Dalam hal ini sesuatu yang semula memiliki nilai etik akan cenderung bergeser ke estetik. Pada saat ini George Simmel dikutip Abdullah (2002) menyebut agama sebagai the work of art, agama menjadi private of business.

Akhir-akhir ini dampak dari globalisasi sudah semakin terasa dalam berbagai bidang kehidupan, baik hubungan antar negara, bangsa, apalagi suku atau etnis. Hubungan antar orang yang berlatar belakang agama, bangsa, suku, dan adat istiadat yang berbeda-beda semakin intens. Bentuk-bentuk komunikasi pun semakin bervariasi dan banyak pilihan, terutama sebagai akibat kemajuan teknologi informasi (information technology). Setiap orang dapat berkomunikasi secara efisien, murah dan cepat, seperti komunikasi melalui fasilitas elek-tronik, seperti TV, internet, email, dan lain-lain. Dahulu, sebelum era kemajuan teknologi informasi, orang bisa saja melakukan pembatasan-pembatasan atau bentuk-bentuk proteksi lainnya untuk—misalnya—membatasi per-gaulan dengan kelompok atau bangsa tertentu. Namun, pada saat sekarang ini, cara-cara seperti itu sudah tidak mungkin lagi ditempuh. Pilihan-pilihan bentuk dan alat komunikasi sudah demikian luas. Bahkan karenanya, pergaulan antar manusia, suku bangsa dan negara sudah sedemikian bebas dan terbuka. Di satu sisi fenomena kemajuan ini mendatangkan kemudahan-kemudahan; namun di sisi lain liberalisasi yang muncul dari globalisasi ini harus dapat diantisipasi agar tidak malah meng-akibatkan munculnya kesulitan-kesulitan baru dalam ke-hidupan manusia. Banyak tantangan yang harus dihadapi se-bagai ekses kemajuan ini. Kendatipun demikian, bagaimana-pun, hubungan kemanusiaan dengan siapapun dan kapanpun harus tetap dijaga untuk saling memahami, menghargai dan atau menghormati satu dengan lain agar terjadi suasana harmoni. Dalam hal ini, dunia yang sedang kita jalani dan alami ini—di sudut manapun—tidak bisa mengelak dari sifat multikulturalnya.

Yudharta, Pesantren dan Pengembangan Pendidikan Multikultual

Sebuah pertanyaan yang sering muncul, saat UYP mengembangkan pendidikan multikultural adalah; mungkin-kah visi itu terealisir sementara UYP merupakan institusi pen-didikan tinggi yang bernaung di sebuah yayasan pesantren. Dan sementara waktu pula stigma yang berkembang adalah bahwa pendidikan pesantren merupakan pendidikan agama—seperti halnya civil education—di institusi-institusi pendidikan yang sering dikesankan sebagai sistem rekayasa sosial pen-didikan yang bercorak dogmatis, doktriner, monolitik, dan tidak berwawasan multikultural. Agama di satu sisi mem-bentuk tipe-tipe kultur masyarakat; bahkan, membentuk kultur yang begitu khas sehingga secara sosiologis sering muncul dalam bentuknya yang sangat eksklusif. Agama manapun kemudian menampilkan corak kultural pemeluknya yang khas dan eksklusif pula.

Untuk menjawab pertanyaan ini perlu dijelaskan bahwa pesantren atau pondok pesantren merupakan lembaga pen-didikan Islam tradisional, lembaga sosial dan penyiaran agama (Mastuhu, 1994) yang dewasa ini banyak mendapatkan per-hatian dari berbagai kalangan, baik dari kalangan “luar” maupun “dalam” pesantren. Hal ini memberikan nilai lebih bagi pesantren dalam hubungannya dengan penegasan eksistensi kelembagaan yang telah mampu berperan secara positif dalam kehidupan berbangsa selama ini.

Selain itu, perhatian tersebut akan menghidupkan suasana dialogis di antara komunitas pesantren yang masih sering ter-lupakan pada masa belakangan ini. Padahal apabila diamati, pesantren sejak berdirinya senantiasa berupaya berdialog dengan lingkungan masyarakat sekitarnya. Kedudukannya yang mengakar di tengah-tengah masyarakat tidak memungkin-kan pesantren untuk tampil terisolir, apalagi eksklusif (Mahfudz, 1994).

Filosofi lahirnya pesantren menurut sementara kalangan, sama persis seperti filosofi wujudnya pasar sebagai tempat jual beli, di mana para pembeli dan penjual tidak dapat begitu saja “dipaksa” menempati pasar tersebut. Namun interaksi antara pembeli dan penjual itu sendiri yang menciptakan tempat yang disebut pasar. Gambaran seperti itulah yang se-mula melahirkan pesantren. Dan ini merupakan cermin intensifnya dialog antara pesantren dengan lingkungannya.

Dialog ini tercipta secara alamiah, karena berdirinya pesantren adalah kehendak masyarakat. Justru tidak masuk akal, apabila pesantren tidak dapat berdialog dengan “pemilik”-nya sendiri. Tidak pernah tersebut dalam sejarah, bahwa pesantren adalah hasil paket dari kalangan tertentu. Dengan demikian, setidaknya ada dua hal yang mendukung terciptanya fenomena dialogis pesantren dengan masyarakat. Pertama, karena tempat dan kedudukannya yang berada di tengah-tengah masyarakat. Dan kedua, pendirian pesantren berasal dari karsa masyarakat yang membutuhkan kehadirannya.

Dengan demikian, sasaran pesantren sebenarnya adalah masyarakat luas. Keberadaan pesantren di tengah masyarakat sebagai suatu lingkungan kehidupan, pada hakikatnya mem-bawa sebuah misi yaitu upaya merangkum kehidupan dalam jalinan nilai-nilai spiritual dan moralitas religius. Selanjutnya pesantren dalam hal ini, akan berfungsi sebagai kontrol dan sekaligus stabilisator dalam proses perkembangan masyarakat yang sering menimbulkan ketimpangan sosial maupun kultural. Dan jika terjadi ketimpangan, maka pesantren sudah barang tentu akan menjadi sasaran kritik dan gugatan.

Posisi pesantren yang sedemikian strategis dalam mem-bangun dialog dengan masyarakat, dapat menjadi potensi besar dalam rangka membangun kerja sama yang saling menguntung-kan dan menghargai antar elemen masyarakat dari berbagai karakter dan latar belakangnya. Salah satu yang bisa dilakukan pesantren adalah membangun toleransi antar umat beragama. Sebuah toleransi yang dibangun atas dasar kesadaran bersama akan pluralitas agama demi terwujudnya masyarakat yang harmonis dan berkeadilan.

Sebuah kesadaran bahwa pluralitas keagamaan di mana pun di dunia ini, kecuali di tempat-tempat tertentu, adalah realitas yang tidak mungkin diingkari. Kontak-kontak antara komunitas-komunitas yang berbeda agama semakin me-ningkat. Hampir tidak ada di belahan bumi sekarang ini kelompok masyarakat yang tidak pernah mempunyai kontak dengan kelompok lain yang berbeda agama. Jaringan komunikasi telah menembus tembok-tembok pemisah yang dahulunya mengisolasi kelompok-kelompok keagamaan dalam masyarakat. Benarlah jika dikatakan bahwa pluralitas ke-agamaan, sebagaimana pluralitas-pluralitas lain seperti pluralitas etnik, pluralitas kultural, dan pluralitas bahasa, adalah semacam hukum alam. Artinya, mengingkari pluralitas keagamaan sama dengan mengingkari hukum alam (Sirry, 2004).

Menyadari potensi di atas pada dasarnya UYP sebagai institusi pendidikan tinggi di bawah naungan yayasan Darut Taqwa yang berlingkungan pesantren, berarti sangat me-mungkinkan untuk melakukan proses percepatan dalam me-numbuhkembangkan toleransi antar umat beragama, walau-pun akhir-akhir ini toleransi antar umat beragama merupakan sesuatu yang amat mahal. Proses percepatan ini pada hakikat-nya tetap berbasis pada nilai pesantren sebagai civileducation, yang memiliki potensi untuk melakukan proses rekayasa sosial(social engenering) dengan hanya membalik paradigma atau orientasinya yang eksklusif menjadi inklusif, yang tadinya masih bersifat doktriner, dogmatis, dan tidak berwawasan multikultural, diubah orientasinya—juga pendekatan dan metodologinya—agar menjadi institusi pendidikan yang tidak malah justru memunculkan ekses negatif, yakni permusuhan antar agama, antar budaya, antar suku, dan antar golongan. Namun pendidikan yang secara spesifik berwawasan agama-agama (pluralisme agama) di samping berwawasan multi-kultural. Di Barat, perbedaan kultur menyebabkan konflik, sehingga di sana gagasannya adalah pendidikan multikultural. Di Indonesia, pemicu konflik seringkali bersumber dari per-bedaan keagamaan, baik antar agama maupun intern agama. Atas dasar ini maka pendidikan agama berwawasan agama-agama menjadi sangat penting. Artinya, pendidikan harus mem-beri ruang bagi eksistensi, pengakuan, dan penghormatan ke-pada agama-agama lain.

The Multicultural University dalam Pemahaman Agama

Hal yang juga menjadi diskursus adalah bahwa karena eksistensi UYP yang berada di bawah naungan yayasan pesantren, maka secara tidak langsung UYP terjustifikasi se-bagai Universitas Islam, walaupun tidak secara legal formal. Selanjutnya berkembang pertanyaan tentang bagaimana pen-didikan multikultural dalam agama.

Terkait dengan pertanyaan tersebut, kembali pada be-berapa prinsip pokok yang perlu dikemukakan, bahwa pertama Islam adalah agama yang bersifat universal. Islam bukan di-peruntukkan bagi salah satu suku bangsa, etnis, tertentu, atau golongan tertentu, melainkan sebagai rahmatan lil ‘alamin; (QS, 21:107), kedua Islam menghargai agama-agama dan ke-percayaan agama lain (QS, 5:48). Islam juga mengajarkan tidak ada pemaksaan dalam beragama (QS, 2:256), ketiga Islam juga merupakan agama yang terbuka untuk diuji kebenarannya (QS, 2:23), keempat Islam juga menegaskan bahwa keaneka-ragaman dalam kehidupan umat manusia adalah alamiah, perbedaan itu mulai dari jenis kelamin, suku, dan bangsa yang beraneka ragam. Perbedaan itu agar terjadi saling mengenal (QS, 49:13), kelima Islam memiliki sejarah yang cukup jelas terkait dengan kehidupan yang majemuk sebagaimana yang ditunjukkan oleh Rasulullah sendiri ketika membangun masyarakat madani di Madinah. Sebagai sebuah negara (waktu itu masih berbentuk negara kota—city state—dan belum menjadi negara bangsa—nation state), Madinah sudah mengakui, menghargai, dan meng-akomodasi berbagai etnik dan berbagai golongan. Semua warga negara menikmati hak hidup dan dilindungi oleh undang-undang, sebagaimana diatur dalam Piagam Madinah (MadinahCharter). Prinsip-prinsip dasar seperti ini, merupakan pe-mahaman yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam mengembangkan pendidikan multikultural.

Atas dasar beberapa prinsip tersebut di atas, maka se-sungguhnya Islam sendiri pada dasarnya memberikan ruang yang seluas-luasnya pada pendidikan multikultural. Bahwa perbedaan-perbedaan itu justru telah dijelaskan sendiri oleh al-Qur’an. Dalam al-Qur’an, Allah menjelaskan bahwa Allah bukannya tidak mampu membikin umat manusia ini menjadi satu umat saja, melainkan dijadikan berbeda-beda atau ber-golong-golongan agar setiap orang atau setiap golongan dapat berlomba-lomba dalam kebaikan (QS 5:48). Di samping itu, dalam ayat lain, Allah memang secara alamiah menjadikan umat manusia itu berbangsa-bangsa (syu’uban) dan ber-kelompok-kelompok (qaba’ilan), agar mereka saling mengenal. Oleh karena itu, tidak selayaknya ditutup-tutupi, apalagi di-ingkari adanya kelompok-kelompok itu. Sebagai ajaran yang terbuka, juga tidak selayaknya para umatnya memiliki rasa takut untuk terpengaruh oleh ajaran lain. Ketakutan dapat dimaknai sebagai penyandang mental kalah atau ekspresi penyakit rendah diri (inferioritycomplex) yang seharusnya di-hindari oleh umat Islam. Atas dasar keyakinan yang kokoh, maka Islam memberikan kebebasan umatnya bergaul secara bebas dan terbuka dalam pentas pergaulan umat manusia se-jagat. Rasulullah, pernah berkirim surat ke raja Heraklius, untuk memperkenalkan ajaran Islam. Oleh karena itu, konsep pen-didikan multikultural bukan malah dijauhi, melainkan se-baliknya harus dihadapi secara obyektif dan penuh percaya diri. Di sinilah para pendidik Islam membuktikan bahwa Islam dapat mewujudkan rahmat bagi seluruh alam semesta, ter-masuk menyebarkan rahmat kepada setiap manusia dengan berbagai latar belakang kultural.

Pendidikan multikultural, bukan bias tauhid atau men-tauhidkan beberapa ajaran agama menjadi suatu agama baru. Namun pendidikan multikultural terbatas pada pengembangan prinsip-prinsip dasar pergaulan antarsesama manusia (ukhuwahbasyariah/muamalah). Oleh karena itu dalam konteks maupun kontennya, semangat multikultural di UYP akan diintegrasikan secara langsung dalam kontens kurikulum dan dikonteks-tualisasikan dalam bentuk pendekatan maupun metodologi yang strategis, pragmatis dan relevan, dengan didukung hardware, serta penyiapan, pembinaan dan pengembangan manajemen dan SDM yang memadai.

Tentang bagaimana hidup di tengah-tengah perbedaan di antara sesama manusia sesungguhnya Islam mengajarkan prinsip-prinsip: (1) kasih sayang antar sesama, (2) saling mengenal, (3) saling menghargai, (4) saling tolong menolong. Sebaliknya, Islam melarang bertindak merendahkan orang lain, bermusuh-musuhan, apalagi saling membinasakan, karena dalam pandangan Islam, menghina manusia sama dengan me-rendahkan ciptaan manusia yang termulia. Islam melarang umat manusia berbuat kerusakan di muka bumi, lebih-lebih menumpahkan darah, menghilangkan nyawa dengan alasan yang tidak benar (QS 17:33). Islam mengkategorikan tindakan membunuh atau menumpahkan darah tanpa alasan yang benar sebagai dosa besar. Al-Qur’an menegaskan bahwa membunuh satu jiwa sama artinya dengan membunuh seluruh manusia, dan sebaliknya melakukan kebaikan kepada satu orang saja artinya sama dengan berbuat baik kepada seluruh manusia (QS 5:32). Konsep Islam tentang tata pergaulan seperti ini mesti dikedepankan sebagai basis dalam mengembangkan pen-didikan.

Di lingkungan pesantren, pengembangan pendidikan tinggi multikultural ini masih tergolong baru, bahkan di Indonesia, Unversitas Yudharta Pasuruan, masih merupakan satu-satunya universitas multikultural yang berada di tengah-tengah pesantren. Walaupun sesungguhnya dalam tataran doktrin yang bersumber dari ajaran Islam, al-Qur’an dan al-Hadis, sejak diturunkan ajaran ini, sudah diperkenalkan. Hanya saja, oleh karena gejala hidup multikultural merupakan fenomena baru, setidak-tidaknya di Indonesia, dan lebih khusus lagi di kota kecil seperti Pasuruan ini, maka perlu adanya pengenalan melalui diskusi, tukar pendapat, dan bahkan juga melakukan studi banding ke tempat-tempat yang fenomenanya sudah ber-jalan lebih lama. Pro dan kontra selalu akan terjadi, sebab hal yang demikian sudah menjadi kelaziman tatkala hal-hal baru diperkenalkan atau terjadi secara tiba-tiba. Akan tetapi, se-bagaimana lazimnya perubahan itu toh akhirnya akan diterima jika hal itu sudah menjadi kenyataan yang tidak bisa dihindari lagi.

Tidak terlalu berlebihan kiranya, ketika kita memiliki faham bahwa jika agama-agama diberikan secara terbuka, maka justru akan memperkokoh keyakinan yang dimiliki oleh masing-masing pemeluk. Cara-cara yang dilakukan sebagian masyarakat untuk melakukan proteksi berlebihan, malah justru akan menjadikan miskin informasi tentang dunia luar, dan akan memiliki efek yang membahayakan. Dalam beragama, bahwa meyakini hanya agamanya sendirilah yang paling benar (sebagai bentuk klaim kebenaran, truth claim) adalah suatu keniscayaan. Akan tetapi, semestinya keyakinan seperti itu tidak harus merendahkan agama—atau meniadaan hak hidup keyakinan lain—lebih-lebih jika bertindak demikian kepada orang yang memeluk agama lain. Yang dipentingkan adalah bahwa pengakuan membenarkan agama sendiri dibekali oleh tanggung jawab, baik bersumber kitab suci atau alasan-alasan lainnya yang dapat dibangunnya. Berangkat dari pandangan ini, maka kita akan dapat terhindar dari sikap keberagamaan yang hanya bersifat ikut-ikutan. Bahkan jika kita mau sadari sepenuhnya, Islam mengajarkan umatnya agar beragama secara sungguh-sungguh atau kaffah. Artinya, dalam ber-agama, Islam tidak menghendaki beragama secara setengah-setengah. Islam yang kaffah adalah Islam yang secara kumulatif mendatangkan kebaikan, kebersamaan, kedamaian, keadilan, dan keamanan bersama.

Universitas Yudharta Pasuruan Menuju Universitas Multikultural

Bukan hal yang sederhana memang, mengembangkan universitas berbasis multikultural. Karena hal ini merupakan hal yang baru dan realitasnya masih asing di berbagai institusi pendidikan kita, lebih-lebih dilaksanakan oleh institusi pen-didikan tinggi yang menjadi bagian dari pesantren. Namun, jika kita berbicara realitas dan permasalahan bangsa serta arah perkembangan dunia, maka pendidikan yang unggul dan multi-kultural merupakan solusi yang tepat untuk pendidikan bangsa kita. Oleh karena itu, Universitas Yudharta Pasuruan me-netapkan visinya sebagai universitas yang unggul dalam bingkai moralitas religius pluralistik, melalui penataan kehidupan kampus yang akademis dan multikultural.

Untuk mencapai visi tersebut, sudah barang tentu harus dilakukan proses revolutif dengan mengintegrasikan nilai-nilai multikultural yang berbasis nilai pluralitas agama dalam kontens kurikulum dan dikontektualisasikan dalam bentuk pendekatan maupun metodologi yang strategis, pragmatis dan relevan, yang didukung hardware, serta penyiapan, pembinaan dan pengembangan manajemen dan SDM yang memadai.

Belum banyak proses yang dilakukan oleh UYP. Selain pengembangan kurikulum, analisis dan eksperimentasi pe-laksanaan akademik yang relefan, penataan dan pengembangan manajemen, penataan dan pengembangan sarana fisik pen-dukung, pelatihan dan pembinaan terus-menerus SDM yang dimiliki, UYP juga senantiasa melakukan kajian, diskusi, seminar, sharring idea, riset,kegiatan-kegiatan lapangan, mau-pun pengabdian masyarakat dengan melibatkan berbagai elemen, kelompok masyarakat termasuk lintas agama di ber-bagai moment yang diformat secara natural, dinamis, transparan, toleran dan penuh kebersamaan.

Sejak UYP berdiri kegiatan bersama antar elemen dan lintas agama telah dilakukan; penyusunan renstra UYP, pem-buatan side plan gedung UYP, kerja sama perguruan tinggi, proses pembelajaran dan lain-lain, prosesnya selalu melibatkan dan mengakomodir berbagai elemen. Termasuk pelaksanaan peresmian gedung kampus yang diikuti oleh kurang lebih 350 kyai dan perwakilan unsur agama-agama dari berbagai wilayah Indonesia. Demikian pula setiap diesnatalis UYP, secara langsung juga dilakukan kegiatan-kegiatan bersama, atraksi, hiburan maupun penampilan-penampilan seni yang meng-akomodir berbagai corak dan elemen masyarakat. Hal ini di-lakukan dengan maksud untuk menciptakan tradisi plural yang mengedepankan nilai-nilai toleransi.

_____________________________________

*AA. Bustomi, M.Si (Pembantu Rekto I UYP 2002-2005)

4 Komentar leave one →
  1. Agustus 23, 2012 4:14 pm

    Kampusku go internasional …….. Go Yudharta….!!!

    by : kangason.blogspot.com

  2. September 6, 2012 4:44 pm

    ok Mas Go Internasional sak Mahasiswanya

  3. Bang Luqman permalink
    Juli 2, 2013 1:48 pm

    Reblogged this on Bang Luqman and commented:
    Catatan ini hanya sekedar untuk piwulang saya sendiri untuk lebih memahami arah alamameter saya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: