Skip to content

Apakah Budhisme Mengenal Pluralisme?

Maret 28, 2012

Ajaran dapat dianalogikan dengan berbagai cara salah satunya seperti analogi seorang dokter yang akan mengobati pasiennya. Sang Buddha adalah seorang dokter dan para umat adalah seperti pasien yang mencari penyembuh bagi kendala-kendala yang dihadapi dalam kehidupan dan Dhamma adalah resep yang diberikan kepada si pasien. Tentunya setiap pasien mempunyai keluhan yang berbeda. oleh karena itu Sang Buddha memberi resep dengan berbagai cara sesuai dengan kebutuhan si pasien. Karena itu bahwa buddha berkembang banyak metode pengajaran namun satu  di dalam tujuannya. Keanekaragaman cara mempraktekkan ajaran Sang Buddha tidak dianggap sebagai pemecah justru sebagai ke-kayaan dalam ajarannya mengingat setiap orang mempunyai watak dan kecendrungan yang berbeda jadi membutuhkan metode pengajaran yang berbeda.

Buddhisme tidak bertentangan dengan pluralisme, justru Buddhisme sangat menghargai pluralisme. Ini dapat dilihat dari munculnya berbagai metode pengajaran agama Buddha dengan ciri dan kekhasannya masing-masing sesuai dengan tempat dan budaya yang dilaluinya selama penyebarannya.Seperti Thailand dengan ciri Buddha Theravada, Tionghoa dengan Buddha Mahayana, dan Tibet dengan Tantrayana. Pengakuan pluralisme ini tidak hanya diakui oleh para penganut ajaran Buddha jaman sekarang saja tapi hal ini dikatakan langsung oleh Sang Buddha sebagai berikut: “Para bihkkhu, kuijinkan engkau mempelajari sabda Sang Bhagava dalam bahasamu sendiri” (Vin. II, 139). Di samping hal hal yang berhubungan dengan kehidupan agama Buddha juga memberikan petunjuk bagaimana agar suatu negara dapat mempertahankan kedaulatannya dan hidup berdampingan dengan negara lain secara damai. Dan dengan sesama suku, agama, ras, bangsa dalam intern negara itu sendiri.

Sang Buddha mengerti bahwa setiap individu memiliki watak dan kecenderungan masing-masing. Oleh karena itu, sebelum mempaparkan atau menuntun orang untuk mengerti ajarannya terlebih dahulu beliau melihat kecenderungan wataknya, mana yang lebih dominan. Apakah wataknya cenderung resah, benci, intelek, atau serakah. Di samping itu beliau melihat kesiapan dan kedewasaan berpikir dari para pendengarnya.

Itulah alasan mengapa agama Buddha sekarang mempunyai metode pengajaran yang beraneka ragam namun memiliki ke-samaan di dalam inti ajarannya. Yaitu percaya pada Triratna, Hukum Kesunyataan, Buddha, Bodhisattva-Mahasattva dan beberapa hal lainnya. Walaupun agama Buddha memiliki ke-anekaragaman metode pengajaran karena disebabkan penafsiran ajaran Sang Buddha yang sesuai dengan watak dan karakternya masing-masing. Namun semua metode pengajaran tersebut dapat bergandengan satu sama lain tanpa sedikit pun pernah terjadi perselisihan satu sama lain. karena Buddhisme berlandaskan cinta kasih dan belas kasih pada semua. Mereka memanfaatkan agama untuk mencapai kebahagian lahir dan batin hingga akhirnya mencapai kebahagiaan tertinggi Nibbana. Bukan sebaliknya agama memanfaatkan mereka sehingga mereka menjadi buta dan tidak bisa berpikir rasional, menghalalkan segala cara untuk perkembangan agamanya ter-masuk dengan kekerasan yang tidak jarang menimbulkan ratap tangis mahluk lain.

Ajaran Buddha bisa diibaratkan seperti sebuah jalan bagi yang ingin mencapai tujuan, sebuah obat bagi yang sedang sakit, bagai segelas air bagi yang sedang haus, sebuah payung bagi yang kepanasan, dan sebuah pulau bagi yang terdampar. Sang Buddha menyuruh para muridnya menyebarkan ajarannya dengan kata-kata sebagai berikut: “Para bhikkhu pergilah ke seluruh penjuru dunia ajarkanlah Dhamma yang indah pada awalnya, yang indah pada pertengahannya, dan yang indah pada akhirnya kepada semua mahluk kebahagiaan dan kesejahteraan mereka dan janganlah kalian pergi berdua ke satu arah”.

Esensi ajaran  Buddha tidak bermaksud menjadikan semua bangsa di seluruh dunia menjadi pengikut. Namun beliau menganjurkan untuk menyebarkannya untuk kebahagiaan dan kesejahteraan semua makhluk. Buddha hanya memberikan jalan, hanya memberikan obat, memberi peneduh, penyejuk bagi yang mau menggunakannya silahkan bagi yang kurang cocok jangan dipakai.

Agama Buddha tidak menyuruh orang untuk menganut ajarannya secara membuta tapi sang Buddha menyarankan agar sebelum percaya selidikilah dahulu, telitilah dahulu, selamilah dahulu dan kalau ajaran itu bermanfaat bagimu dan bagi orang banyak jalanilah dan terimalah sebagai jalan hidupmu. Tapi kalau ajaran tersebut merugikan dirimu dan mahluk lain, maka silakan dijauhi. Sang Buddha pernah bersabda “Janganlah engkau percaya pada apa yang dikatakan kitab suci yang walau-pun umurnya ribuan tahun, pada desas-desus yang disampai-kan orang, dari orang yang engkau hormati, atau karena hal itu disampaikan oleh gurumu, atau karena hal itu cocok dengan pemikiranmu. Namun setelah engkau membuktikannya, meneliti, melihat dengan seksama dan hal itu membawa manfaat bagi dirimu dan orang lain maka terimalah ajaran tersebut”.

Sang Buddha adalah orang yang berpandangan realistis ia tidak menghina ajaran agama lain dan menyanjung ajarannya sendiri bahkan beliau menyuruh siapapun juga untuk menguji, memeriksa dan membuktikan kebenaran ajarannya sebelum dianut dan dipraktekkan sebagai jalan hidup bagi seseorang. Dan kalaupun ajaran Buddha tidak cocok sang Buddha tidak mengikat atau memaksanya untuk tetap berada didalam Buddhis karena pada dasarnya Buddhisme adalah ajaran ke-sunyataan yang membimbing setiap individu untuk mengenal realitas dirinya sendiri.

Nilai universal dari agama mengatasi perbedaan bangsa, tetapi agama Buddha tidak meniadakan kebangsaan. Dalam riwayat hidup Buddha Gotama paling tidak tercatat enam belas negara, dan Buddha menghargai eksistensi masing-masing, misalnya pengakuan terhadap bahasa mereka seperti yang ter-tulis di atas.

Menurut tradisi kuno bangsa diartikan sebagai kesatuan dari orang-orang yang bersamaan asal keturunan, sama pula dalam hal bahasa dan adat. Asal keturunan memang penting, karena itu Buddha mengajarkan kita untuk berbakti kepada orang tua dan menghormat leluhur (D. III, 189), tapi martabat manusia tidak diturunkan menurut kasta dan kelahiran. Karena asal keturunan tidak mengikat, dan manusia bisa menentukan karmanya sendiri, mulia tidak mulia dan suci atau tidak suci itu tergantung dari diri sendiri, dimungkinkannya terbentuknya suatu bangsa sebagai kesatuan dari orang-orang yang berbeda keturunan. Kebangsaan inilah yang kita kenal sekarang.

Terdapat sejumlah bangsa yang tumbuh dan negara yang menjadikan agama Buddha sebagai identitas bangsanya. Sejarah Srilanka, Thailand, Myanmar, Tibet dapat dikatakan adalah sejarah agama Buddha, hubungan antara sejarah bangsa India, Tionghoa, Jepang, Korea dan beberapa negara Asia lain dengan perkembangan agama Buddha merupakan suatu yang tidak terpisahkan. Seperti juga berbicara mengenai sejarah Sriwijaya dan Majapahit di Indonesia tidak lepas dari sejarah agama Buddha.

Pengakuan akan pluralisme dalam agama Buddha juga dapat dilihat dari kerukunan yang ditunjukkkan oleh agama Buddha dan Hindu pada jaman-jaman dahulu. Raja-raja Mataram (abad ke 8-10) ada yang beragama Siwa, ada yang beragama Buddha, alkulturasi budaya adalah suatu hal yang tak terhindarkan. Penganutan agama di Jawa yang cenderung sikretisme berlanjut hingga kerajaan Singasari (1222-1292) dan Majapahit (1293-1528). Kitab Kakawin Sutasoma (menyimpang dari Sutasoma Jataka) menyatakan Buddha tak lain dari Brahma-Wisnu-Iswara, Trimurti Hindu. Pada hakikat-nya Siwa dan Buddha itu adalah satu: Siwa Buddha Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharmma Mangrwa. Kitab Arjunawyaya menceritakan para bhikkhsu mengakui bahwa semua Buddha yang dibedakan menurut penjuru alam adalah sama saja dengan penjelmaan Siwa. Kitab Kunjara Karna menyebutkan tiada seorang pun, apakah ia pengikut Siwa atau pengikut Buddha, yang bisa mencapai kesempurnaan jika ia memisahkan Siwa Buddha yang sebenarnya satu.

Rassers melihat Siwa ataupun Buddha merupakan salah satu aspek saja dari satu agama yang tunggal, yang bersifat Jawa, sehingga tidak dipandang bersaing. Ia menunjukkan cerita Jawa kuno Bubuksah yang mengunggulkan agama Buddha namun dilukiskan pada candi Siwa, Candi Panataran. Di jaman Majapahit Siwa Buddha tidak menyatu dalam ke-seluruhan sistemnya. Menurut kitab Negarakartagama kedua-nya tetap terpisah, berbeda ajaran, berbeda pendeta dan tempat peribadatan. Terdapat pejabat yang mengurus agama Buddha (Kasogatan) dan agama Siwa (Kasiwaan). Bahkan daerah binaan pun diatur. Pendeta penganut Sugata (Buddha) dalam perjalanan mengemban pemerintah Baginda Nata dilarang menginjakkan tanah sebelah barat pulau Jawa, karena penghuninya bukan penganut ajaran Buddha.

Jaman sekarang pun agama Buddha tetap selaras dengan dan dapat tumbuh dan berkembang bersama dengan agama-agama lain, ras, suku, adat-istiadat yang beraneka ragam di Indonesia. Ini menunjukkan jiwa toleransi dalam ajaran Buddha sudah menyatu ke dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara dari penganutnya.

Tidak seorang pun memilih untuk dilahirkan sebagai ke-turunan ras tertentu yang kemudian menjadi ikatan pramodial baginya, seorang anak semula belum tahu dan tidak membeda-bedakan keturunan bangsa, sampai dia diajar untuk membuat perbedaan. Kelahiran di salah satu alam kehidupan dan lingkungan atau ras tertentu merupakan buah dari karma masa lalu. Tetapi kehidupan seseorang jua ditentukan oleh karma atau perbuatan sekarang. Setiap orang dapat berpikir dan me-laksanakan apa yang dipikirkannya baik, untuk menjadi dirinya sendiri, apakah itu dengan memilih kewarganegaraan atau ke-bangsaannya terlepas dari keturunan. Perbuatannya merupa-kan rahim dari mana dia dilahirkan (A.V, 291). Ia adalah pelindung bagi dirinya sendiri (Dhp. 160). Bukan seorang ibu, ayah atau sanak keluarga lain yang melakukan; melainkan pikiran sendiri yang diarahkan dengan baik yang akan meng-angkat derajat seseorang (Dhp. 43).

Kalau kita renungkan apa yang tertulis di atas dapat kita simpulkan bahwa merupakan suatu hal yang kurang bagi se-orang individu, kelompok, atau suatu bangsa yang menganggap ras atau bangsanya sebagai suatu yang unggul, terpilih dan lain sebagainya. Kita datang dan lahir di dunia ini pada dasarnya tidak membawa apa-apa, tanah, rumah, pakaian, atau bahkan agama. Kita mengenal istilah ras, suku, agama, dan bangsa itu setelah kita diperkenalkan oleh masyarakat, bergaul dengan masyarakat barulah kemudian kita menyerap berbagai istilah-istilah, kesepakatan-kesepakatan serta konvensi-konvensi yang dibuat oleh masyarakat. Sehingga kita mulai membedakan diri dengan yang lain. Mulai melihat kejelekan orang lain dan menyanjung diri sendiri. Tapi kalau sesungguh-nya kalau kita mau kembali merenung pada hakikatnya kita adalah sama-sama manusia, sama-sama ingin bahagia dan tidak ingin menderita. Kalau kita bisa menyadari hakikat ini maka kita tidak akan saling menghina satu sama lain, karena pada hakikatnya kita sama.

Ada sebuah cerita Zen yang menggambarkan bahwa kita adalah sama. Diceritakan ada sebuah ombak kecil di sebuah samudera. Ombak kecil ini kelihatannya sedang murung dan bersedih. Setelah diselediki ternyata si Ombak Kecil ini bersedih karena melihat dirinya terlalu kecil, lemah, dan tak berdaya sedangkan ombak yang lain besar-besar dan gagah. Saat si ombak kecil ini sedang asyik merenungkan nasibnya tersebut datanglah Ombak Bijaksana. Ia menghampiri si Ombak Kecil tersebut dan menayakan mengapa ia kelihatan sangat bersedih dan berduka cita?

Sang Ombak Kecil lalu menceritakan perasaannya pada si Ombak Bijaksana: “Wahai Ombak Yang Bijaksana aku saat ini sedang bersedih merenungkan diriku yang kecil, lemah dan tak berdaya sedangkan ombak-ombak yang lain besar-besar dan gagah. Mengapa hal ini terjadi padaku rasanya ini tak adil. Bantulah aku wahai Ombak Bijaksana carikan jalan keluar agar kesedihanku tidak berlarut-larut”.

Kemudian Ombak Bijaksana berkata: “Engkau sebenarnya tak perlu bersedih karena kalau engkau mengerti hakikat dirimu sesungguhnya, maka engkau tak akan bersedih. Cobalah masuklah ke dalam dirimu sendiri renungkan hakikatmu. Maka engkau akan mengerti semua”. Si Ombak Kecil pun mulai merenung dan tiba-tiba dia berteriak gembira: “Ya….aku mengerti sekarang, pada dasarnya aku adalah sama dengan mereka tak ada yang besar ataupun kecil, kuat ataupun lemah, terpilih ataupun tersisih, pada dasarnya kita adalah sama. Sama-sama adalah air dalam samudera kehidupan yang maha luas ini. Lalu kenapa aku harus iri dengan air padahal aku sendiri adalah air”. Akhirnya si Ombak Kecil menyadari hakikat dirinya dan semua. Sejak saat itu ia tidak bersedih atau merasa rendah diri lagi.

Dari cerita di atas kita dapat melihat walaupun kita berasal dari suku, ras, agama, dan bangsa yang berbeda namun pada hakikatnya kita adalah sama-sama manusia dan sama-sama ingin bahagia. Andai saja semua orang menyadari hakkat diri-nya dan orang lain apa adanya. Maka kita bisa hidup rukun tenang dan bahagia dalam keanekaragaman kehidupan ini.

Orang menjadi warga negara dengan memiliki kewajiban dan hak sebagai anggota suatu bangsa yang menegara. Seperti juga menjadi bhikkhu harus melatih dalam sila, samadhi dan kebijaksanaan. Atau ia dapat diibaratkan sebagai seekor keledai yang tidak memiliki rupa dan suara yang menyerupai seekor sapi seraya berkata: “Tengoklah aku pun seekor sapi juga”. (A.I, 229). Sudah tentu identitas bangsa yang modern tidak dilihat menurut penampilan fisik seperti raut wajah dan warna kulit. Identitas merujuk pada pikiran, ucapan dan per-buatan. “Orang-orang bodoh, apa gunanya rambut kondemu, apa gunanya pakaian kulit rusamu? Engkau hanya memoles bagian luarmu, sedangkan batinmu penuh dengan kotoran”. (DhP.n 394).

Membedakan suku bangsa dan ras, keturunan asli dan tidak asli terkait dengan prasangka sosial selalu merupakan potensi konflik. Ketika yang satu merendahkan atau memojok-kan yang lain. Jika keasliaan darah yang mengalir dalam tubuh seseorang menentukan kehormatan dan kedudukannya, manusia akan berusaha untuk menjaga kemurniannya. Mereka akan menikahi saudara sendiri. Seperti kisah Ambattha yang tidak berbeda dari orang yang rasialis di masa kini, menyadari kekeliruannya.

Bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika. Sekalipun aspek kuantitas membedakan golongan mayoritas dan minoritas, negara mengakui hak dan kewajiban yang sama dari setiap warga negaranya. Tidak ada dominasi golongan mayoritas terhadap minoritas, tak ada yang dikalahkan dan dimenangkan. Dalam konteks inilah bahasa melayu yang bercikal bakal dari jaman Sriwijaya diangkat sebagai bahasa Indonesia, diterima sebagai bahasa nasional.

Pluralisme dalam Buddhisme adalah suatu hal yang wajar karena pada dasarnya kehidupan kita dipengaruhi oleh kondisi alam, cuaca, persediaan bahan makanan dan berbagai faktor yang lain. Sehingga melahirkan berbagai keanekaragaman baik suku, ras, agama, bangsa, adat istiadat dan negara. Dan kita tidak bisa menghindari hal ini. Mau tak mau kita harus menerima pluralisme dalam berbagai sisi kehidupan. Dengan saling melengkapi satu sama lain sehingga akan menghasilkan harmoni kehidupan yang selaras dan damai. Dengan begitu bumi yang kita tempati bisa menjadi surga umat manusia.

Tentunya kita akan menganggap bahwa ras, agama, suku, bangsa kitalah yang paling baik dan bagus. Tapi di samping itu, kita tidak menganggap rendah yang lain. Ibarat sebuah seruling yang suaranya bagus dan merdu, demikian juga gitar mempunyai suara yang nyaring, genderang mempunyai suara berdegup dan kalau semua alat musik itu dipadukan dalam suatu paduan orkestra, maka akan menghasilkan suatu irama yang sangat luar biasa indahnya.

Semoga kita semua bisa menjadi alat-alat musik yang indah dan ketika kita berkumpul dan bertemu satu sama lain. kita bisa saling berkerjasama hingga melahirkan irama ke-hidupan yang damai bahagai dan harmonis.

 

*Courtesy: Tosin (pemuka Agama Budha) dalam Buku Serumpun Bambu-Yudharta Press

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: