Skip to content

Makelar Wali (2): Sunan Pandanaran Klaten-Jawa Tengah

April 28, 2012

Tiga tahun yang lalu (tepatnya tahun 2009) untuk pertama kalinya saya mengunjungi Komplek Pemakaman Sunan Pandanaran atau lebih akrab dengan sebutan Sunan Bayat di Perbukitan Jabalkat. Sedangkan kedua kalinya singgah disini pada tahun 2011.

Sunan Bayat (nama lain: Pangeran Mangkubumi, Susuhunan Tembayat, Sunan Pandanaran (II), atau Wahyu Widayat) adalah tokoh penyebar agama Islam di Jawa yang disebut-sebut dalam sejumlah babad serta cerita-cerita lisan. Ia terkait dengan sejarah Kota Semarang dan penyebaran awal agama Islam di Jawa, meskipun secara tradisional tidak termasuk sebagai Wali Sanga. Makamnya terletak di perbukitan (“Gunung Jabalkat”) di wilayah Kecamatan Bayat, KlatenJawa Tengah, dan masih ramai diziarahi orang hingga sekarang. Dari sana pula konon ia menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat wilayah Mataram. Tokoh ini dianggap hidup pada masa Kesultanan Demak (abad ke-16).

Menuju ke lokasi tak sulit karena jalan sudah mulus dan dapat dijangkau dengan ragam kendaraan. Bahkan tak jarang terlihat truk yang parkir di lokasi untuk mengantarkan para peziarah.

Pintu masuk adalah gapura yang bernama Gapura Sagara Muncar. Tertera dibangun sejak Tahun 1448 Saka. Selain Gapura Sagara Muncar, ada lima gapura lain yaitu Gapura Dhudha, Gapura Pangrantuan, Gapura Panemut, Gapura Pamuncar, dan Gapura Bale Kencur.

Seluruh Gapura ini jika diuurutkan dari awal menunjukkan tingkatan terendah menuju tingkatan atas yang berada semakin dekat dengan makam. Setiap gapura memiliki tanda waktu pembuatannya.

Makam terletak di perbukitan gunung Jabalkat, Paseban, Bayat, Klaten. Posisi makam berada pada ketinggian membuat suasana sangat hikmat dan tenang. Bahkan, pada malam hari banyak pengunjung yang melakukan ziarah dan melakukan tirakatan di lingkungan makam. Agar dapat masuk, Anda harus membayar retribusi seharga Rp2.000 per orang.

Ada sekitar 250 anak tangga yang harus dilalui menuju makam Sunan Pandanaran. Di kanan dan kiri anak tangga terdapat penjual yang menjajakan berbagai dagangan tradisional di antaranya batik dan gerabah.

Agak naik ke atas, kita akan bertemu gapura Dhuda, juga berupa candi bentar. Berturut-turut akan menemui gapura Pangrantunan (kayak nama daerah di buku Nagasasra dan Sabuk Inten) berbentuk paduraksa tanpa pintu, gapura Panemut yang berbentuk candi bentar, gapura Pamuncar seperti gapura Panemut, dan gapura Bale Kencur yang berbentuk paduraksa yang berdaun pintu. Aku belum tahu kenapa gapura-gapura tersebut dinamai demikian. Tapi yang jelas, bentuk arsitekturnya Hindu banget.

Setelah gapura terakhir, kita akan menemui masjid usianya setua usia kompleks makam ini. Ukurannya kecil, bahkan untuk masuk masjid harus menundukkan kepala. Arsitektur majsid jawa dengan 4 soko guru. Bahan kayu yang dipakai untuk sokoguru, pintu, dan jendela masih asli. Bedung yang sudah termakan usia juga masih ada, ditaruh di luar.

Setelah gapura Bale Kencur, kita memasuki makam keluarga dan pengikut sunan Bayat. Di kompleks makam ini terdapat dua padasan yang berusia ratusan tahun, yang bernama Kyai Naga. Disebut Kyai Naga karena tempat keluarnya air dari padasan berbentuk kepala naga. Naik lagi ke atas, kita akan sampai pada puncak kosmos pemakaman itu, yaitu makam sunan Bayat. Makam tersebut terletak di dalam sebuah bangunan yang luas dan tertutup, dengan tembok yang tebal. Di dalam ruangan, makam tersebut juga ditutupi oleh bangunan dari kayu, dengan selambu kain warna putih. Sayang aku dilarang mengambil gambar di dalam. Bahkan kita tidak bisa melihat ke dalam untuk melihat makam tersebut.

Di sekitar bangunan tersebut juga terdapat senjata tombak dan payung. Mungkin itu adalah pusaka peninggalan Sunan Bayat. Ada sebuah tulisan yang berhuruf Jawa, sayang tidak ada terjemahannya. Aku tidak bisa membaca itu tulisan apa . Mungkin riwayat hidup Sunan, mungkin bisa apa saja.

Sunan Bayat sendiri hidup semasa Sunan Kalijaga (dan Syekh Siti Jenar). Nama aslinya adalah Ki Ageng Pandanarang. Awalnya beliau adalah seorang pejabat tinggi kerajaan dan memiliki kekayaan yang melimpah. Kemudian beliau memutuskan untuk meninggalkan kehidupan duniawinya, kekayaannya, dan mengabdikan dirinya untuk syia’ar agama. Beliau menjadi murid Sunan Kalijaga, dan oleh Kanjeng Sunan Kalijaga diperintahkan untuk berd’awah di daerah Bayat, Klaten.

Disinilah Sunan Bayat berda’wah sampai menutup mata. Saat gonjang-ganjing Syekh Siti Jenar, Sunan Bayat masuk sebagai salah satu anggota dalam dewan Wali Songo (baca Syekh Siti Jenar karya Abdul Munir Mulkhan).
 
*Diambil dari berbagai sumber
One Comment leave one →
  1. Yezhy permalink
    Oktober 26, 2015 12:49 pm

    Makasih infonya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: