Skip to content

JogjAdventure #3: Benteng Vredeburg

Mei 18, 2012

Benteng Vredeburg pada mulanya hanyalah sebuah benteng sederhana berbentuk bujur sangkar yang dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1760 atas permintaan pemerintah kolonial Belanda masa itu, Nicolas Harting. Benteng sederhana ini memiliki 4 bastion pada masing-masing sudutnya yang diberi nama Jayawisesa (sudut barat laut), Jayapurusa (sudut timur laut), Jayaprakosaning (sudut barat daya) dan Jayaprayitna (sudut tenggara).

Seiring dengan perkembangan politik Indonesia, status kepemilikan Benteng Vredeburg mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Pada awal berdiri, benteng ini milik Keraton yang penggunaanya dihibahkan kepada Belanda (VOC). Kebangkrutan VOC menyebabkan penguasaan benteng diambil alih oleh Bataafsche Republic (Pemerintah Belanda). Setelah Inggris berkuasa, benteng jatuh ke penguasaan Jendral Raffles, kemudian kembali lagi ke pemerintah Belanda hingga kedatangan Jepang. Setelah Indonesia merdeka, secara otomatis benteng berpindah tangan menjadi milik pemerintah Indonesia.

Atas ijin dari Sri Sultan HB IX, pada tanggal 9 Agustus 1980 Benteng Vredeburg dijadikan sebagai Pusat Informasi dan Pengembangan Budaya Nusantara. 12 tahun sesudahnya yakni pada 23 November 1992, Benteng Vredeburg resmi menjadi “Monumen Perjuangan Nasional” dengan nama “Museum Benteng Vredeburg”. Saat ini, selain difungsikan sebagai museum, Benteng Vredeburg juga sering digunakan sebagai tempat dilangsungkannya berbagai kegiatan seni dan budaya.

Jika Anda membayangkan Benteng Vredeburg sebagai sebuah bangunan kuno yang sudah lapuk dan tidak terawat, Anda salah besar. Kondisi Benteng Vredeburg cukup terawat dan bersih. Meskipun bagian dalam benteng telah dipugar dan disesuaikan dengan fungsinya yang baru sebagai ruang museum, Benteng Vredeburg tetap menyisakan aroma kemegahan masa lalu. Benteng Vredeburg dikelilingi oleh parit lebar, sehingga Anda harus lewat jembatan penghubung untuk dapat masuk ke benteng tersebut.

Benteng yang berbentuk segi empat ini memiliki menara pengawas di keempat sudutnya dan kubu yang dulu digunakan tentara Belanda untuk berjalan berkeliling sambil berjaga-jaga. Saat menjelang senja dan cuaca cerah, akan terlihat pemandangan yang bagus dari atas tempat ini. Ribuan burung sriti berterbangan di kawasan titik nol menghiasi langit sore yang berwarna-warni. Di tambah pemandangan kendaraan, andong, becak, dan sepeda onthel yang bersliweran di jalan raya, serta lampu jalan dan bangunan di kawasan nol kilometer yang mulai menyala, semuanya akan memberikan kesan yang mendalam tentang salah satu sudut Kota Jogja.

Di dalam bangunan benteng terdapat ratusan diorama yang menggambarkan tentang perjuangan rakyat Indonesia sebelum proklamasi kemerdekaan hingga masa orde baru. Selain itu, terdapat juga koleksi benda-benda bersejarah, foto-foto, dan lukisan tentang perjuangan nasional dalam merintis, mencapai, mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Indonesia. Diorama dan koleksi benda-benda bersejarah tersebut dilengkapi dengan tulisan yang berisikan informasi tentang peristiwa yang terjadi pada masa itu.

Ruangan-ruangan yang ada di dalam benteng seringkali digunakan sebagai tempat seminar, pameran lukisan, atau kegiatan budaya lainnya. Bahkan setiap tahun, Benteng Vredeburg selalu dijadikan sebagai pusat penyelenggaraan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY). Selama sebulan penuh Benteng Vredeburg akan semarak dengan pertunjukan seni budaya. Tak hanya FKY, Festival Gamelan Gaul yang rutin dilaksanakan tiap tahun juga seringkali dilaksanakan di tempat ini.

Bagi Anda yang suka bersepeda, di dalam benteng ini terdapat penyewaan sepeda onthel. Cukup membayar Rp. 5.000,00, Anda dapat puas bersepeda mengitari bangunan ini. Atau jika Anda membawa laptop, Anda dapat berselancar di dunia maya sambil duduk-duduk di halaman benteng yang rimbun dan asri. Hal ini dikarenakan Benteng Vredeburg memiliki fasilitas hotspot gratis bagi para pengunjung.

Jika Anda datang dari Bandara Adi Sucipto, Anda dapat menggunakan bus transjogja jalur 1A dan 3A kemudian turun di shelter depan Gedung Agung. Wisatawan yang datang dari Teminal Jombor dapat menggunakan bus tranjogja jalur 2A atau bus kota jalur 18 dan 19. Sedangkan wisatawan yang berangkat dari Terminal Giwangan dapat menggunakan bus transjogja jalur 3A atau bus kota jalur 4 dan jalur 10.

Kompleks Benteng Vredeburg mempunyai berbagai fasilitas yang dapat digunakan oleh wisatawan maupun instansi dan lembaga yang ingin mengadakan kegiatan di kawasan tersebut. Fasilitas yang ada meliputi perpustakaan, ruang pertunjukan, ruang seminar, ruang belajar kelompok dan audio visual, ruang tamu, koperasi, mushola, dan kamar mandi. Di tempat ini juga terdapat fasilitas hotspot gratis. Jika wisatawan membutuhkan pemandu untuk menjelaskan tentang sejarah dan seluk-beluk Benteng Vredeburg, wisatawan tinggal menghubungi pihak pengelola.

Selain fasilitas yang ada di dalam kompleks benteng, ada banyak fasilitas pendukung lain di luar benteng. Hotel, rumah makan, pusat perbelanjaan, rumah sakit, warnet, tempat ibadah, transportasi publik, semuanya akan Anda temukan dalam radius tidak lebih dari 1 kilometer. Jika Anda sudah puas mengelilingi Benteng Vredeberg, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke bangunan bersejarah atau obyek wisata yang ada di seputaran titik nol Yogyakarta. Obyek wisata tersebut antara lain Gedung Agung, Kantor Pos Besar, Gedung Bank Indonesia, Taman Pintar, Taman Budaya Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, dan Masjid Gede Kauman. Anda tidak perlu menggunakan kendaraan untuk sampai di obyek-obyek tersebut, karena lokasinya dekat dan bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Lokasi Benteng Vredeburg berseberangan dengan Istana Kepresidenan Yogyakarta, Gedung Agung. Benteng ini terletak di Jln Ahmad Yani no 6, Kelurahan Ngupasan, Kecamatan Gondomanan, Kota Yogyakarta, DIY, Indonesia.

Terletak di kawasan kilometer nol yang merupakan jantung Kota Yogyakarta membuat akses menuju Benteng Vredeburg menjadi mudah. Dari Stasiun Tugu dan Kawasan Malioboro, Benteng Vredeburg dapat ditempuh dengan berjalan kaki ke arah Selatan. Namun, jika Anda merasa terlalu jauh, Anda dapat naik becak atau andong menuju tempat tersebut.

*Courtesy: jogjatrip

2 Komentar leave one →
  1. dimas bagus satrio nugroho permalink
    Mei 21, 2012 1:20 am

    ok, sip maturnuwon atas berbaginya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: