Skip to content

Pasar Tradisional Perlu Diremajakan

Mei 19, 2012

Pasar Tradisional (Perlu Diremajakan) Vs Pasar Modern

Pasar seyogyanya merupakan tempat bertemunya antara penjual dan pembeli. Secara khusus pasar tradisional pada dasarnya merupakan tempat jual beli yang memiliki konsep tradisional, namun sistemnya tidak tradisional seperti barter (barang ditukar barang) melainkan telah menggunakan uang sebagai sistem pembayaran. Tapi, seiring perkembangan jaman yang semakin modern, alhasil membuahkan sistem jual beli yang semakin canggih pula, yang menggeser uang kertas menjadi uang plastik..

Kini, pasar tradisional semakin tergerus dan kalah oleh toko-toko nan indah yang mengangkat prestise seseorang dalam melakukan aksi jual beli, yaitu hadirnya mall-mall dan pusat perbelanjaan yang mampu mengangkat prestise seseorang.

Kehadiran pusat-pusat perbelanjaan seperti mall dan sekelasnya kini telah menjamur di Indonesia. Bahkan, hal demikian mampu merubah mindset masyarakat Indonesia untuk berbelanja di mall-mall dan sekelasnya. Alhasil, terjadi pergeseran konsumen dari pasar tradisional ke pasar modern (baca : Mall dan sekelasnya)

Memang pasar tradisional tidak kehilangan pelanggan secara nyata dan signifikan, tapi yang menjadi persoalan adalah ketidakberpihakan pemerintah akan sistem ekonomi pasar tradisional, yang menyebabkan pasar tradisional menjadi rentan untuk sulit bertahan hidup.

Tingkat inflasi yang volatilitas pun membuat ketahanan pedagang di pasar semakin berguncang keras untuk mempertahankan perekonomiannya. Padahal, keterampilan berdagang mereka didapatkan dari pengalaman dan minim pendidikan berwirausaha. Ini menjadi persoalan serius, karena pasar tradisional dihadapkan dengan persaingan bebas atau persaingan industri global. Apalagi pada tahun 2015 Indonesia akan dihadapi dengan Asean Economic Community (AEC), yang akhirnya semakin dibutuhkan ketahanan secara progresif dan ketat untuk mempertahankan hidup dalam bebasnya ekonomi global.

Bila melihat pasar tradisional sekarang, maka stigma masyarakat adalah pasar becek, bau, kotor, dan tidak terawat. Padahal, demikian itu yang menjadikan sebagian masyarakat kita lebih memilih mall-mall dan sekelasnya, terutama masyarakat kelas menengah dan kelas atas.

Ini wajar terjadi. Soalnya, peremajaan yang dilakukan pemerintah seakan tidak secepat keinginan masyarakat. Yang akhirnya tidak terjadi keseimbangan antara kebijakan pemerintah dan keinginan masyarakat.

Peremajaan suatu pasar yang ada di Indonesia, sebenarnya memiliki nilai urgent yang harus segera dilakukan. Soalnya, kedatangan investor asing dan adanya peraturan yang tidak memihak kepada pasar domestik membuat pasar tradisional semakin terpojok dan berada diujung tanduk.

Nilai jual suatu kios saja semakin lama semakin tinggi, tidak berbanding dengan pendapatan per kapita pedagang pasar. Ini semakin membuat pedagang semakin tertekan. Pada akhirnya tindak kejahatan menjadi peluang untuk mempertebal pundi-pundi kekayaan.

Dalam hal ini pemerintah pun tidak bisa menghentikan kejahatan dalam pasar, baik penimbunan barang maupun kecurangan yang dilakukan pedagang. Padahal, dengan baiknya sistem dan keberpihakan kepada pedagang dipasar tradisional membuat pasar tradisional maju berkembang.

Ini semakin perlu diperhatikan manakala pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada tingkat 6,5% pada tahun 2011. Bahkan, Triwulan I-2012, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada level 6,1%, atau naik 1,4% dari Triwulan IV-2011.

Terpenting dari itu adalah pasar domestik yang menyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi 6,5% pada tahun 2011, dan tumbuh 1,4% pada Triwulan I-2012.

Ini membuktikan bahwa daya beli masyarakat yang kuat harus diimbangi dengan peningkatan kualitas dan kuantitas pasar tradisional serta menciptakan regulasi yang berpihak kepada pasar tradisional. Soalnya, pasar tradisional tetap menjadi pasar favorite kelas dibawah menengah dan atas yang tentunya lebih dominan harus bisa diremajakan untuk mendukung daya beli masyarakat kita.

Dengan adanya dukungan terhadap pasar tradisional, maka secara tidak langsung telah melindungi masyarakat Indonesia dari leberalisme dan kapitalisme yang menggerogoti demokrasi yang telah dijunjung dan diretorikakan selama ini.

Karenanya, adanya akselerasi peremajaan pasar tradisional dan regulasi yang mendukung keberpihakan pasar tradisional diharapkan tumbuh. Dengan demikian fundamental perekonominan kita benar-benar berbasis kepada pasar domestik dan dalam negeri.

*Courtesy: Angga Bratdharma

2 Komentar leave one →
  1. wongijo permalink
    Mei 20, 2012 2:25 am

    inilah mas salah satu akibat dari diadopsinya ideologi kapitalis liberal demokratis… konsep pembangunan menjadi lebih berpihak kpd pemilik modal. beda dengan ideologi Islam yang memiliki konsep kepemilikan pribadi, kepemilikan umum dan kepemilikan negara. dengan konsep ini Islam memiliki arah pembangunan ekonomi yang jelas.

    • Mei 21, 2012 3:42 pm

      contoh konkrit dari manifestasi ideologi Islam dalam negara, itu ada di negara mana kang? jangan2 hanya ‘mimpi’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: